COMMUNICATION
INTERPERSONAL SKILL PUSTAKAWAN UNTUK MENINGKATAKAN KUALITAS PELAYANAN
DI PERPUSTAKAAN
A.
Latar Belakang Masalah
Perpustakaan bukan saja berfungsi
sebagai tempat mendapatkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan hiburan namun
lebih luas dari itu juga berfungsi sebagai tempat melaksanakan pendidikan luar
sekolah, dimana masyarakat diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk melakukan
proses belajar mandiri dalam pembentukan pribadi, mendapatkan keterampilan,
mengenal berbagai macam perkembangan sosial, politik, kebudayaan yang
berkembang di masyarakat.
Kompetensi seseorang dalam melaksanakan sebuah pekerjaan tidak
hanya diukur
secara
teknis saja, namun dibutuhkan keterampilan lainnya yang bersifat nonteknis , berupa soft skills yang mendukung dalam bidang apapun, tak terkecuali pustakawan. Istilah soft skills people skills, atau interpersonal skill adalah hal yang saling barkaitan, sehubungan dengan
kemampuan menjalin hubungan baik dengan seseorang, baik sesama
rekan seprofesi maupun pengguna perpustakaan.
Soft skills pada dasarnya merupakan
keterampilan non teknikal dan terkait erat dengan kepribadian seseorang yang
dapat menjadikan seseorang sebagai karyawan yang baik dan pekerja yang dapat
diandalkan[1]
Menciptakan hubungan baik dengan pengguna
menjadi hal yang tidak kalah pentingnya
dalam penerapan soft skills bagi
pustakawan. Pustakawan harus dapat mengidentifikasi kebuthan, keinginan, dan
cara pemenuhannya, seperti informasi apa, untuk siapa, kapan, dimana. dan bagaimana[2]
Untuk mencapai harapan
tersebut, maka sumber daya manusia yang terlibat, yaitu para pustakawan, juga
dituntut untuk meningkatkan kompetensinya. Pustakawan harus semakin kompeten,
bukan hanya sebagai penjaga buku tetapi dapat berperan lebih aktif sebagai
sumber informasi. Pemberian layanan yang baik menjadi syarat utama kompetensi
seorang pustakawan. Untuk memberikan layanan yang baik, maka pustakawan
dituntut untuk memiliki kemampuan dalam bentuk hard skills dan soft skills[3]
Kemampuan soft skills menjadi bagian dalam pencapaian
tujuan keberhasilan penyelenggaraan layanan perpustakaan. Penulis mengambil
komunikasi interpersonal sebagai bentuk soft skill pustakawan dalam hal ini
terkait dalam upaya pemberdayaan sumber daya manusia oleh pihak terkait. Oleh karena itu perlunya komunikasi yang efektif
yang harus
dimiliki pustakawan sehingga
pustakawan dapat menerapkannya dalam lingkungan pekerjaaannya yang memang memerlukan banyak interaksi dengan pemustaka.
B. Rumusan
Masalah
Bagaimana bentuk komunikasi interpersonal yang dimiliki oleh pustakawan dalam meningkatkan
kualitas pelayanan dalam memberikan pelayanan terhadap pemustaka?
C.
Tujuan dan Manfaat
1. Untuk mengetahui komunikasi interpersonal antara
pustakawan dan pemustaka
2. Untuk mengetahui kepuasan pemustaka dengan komunikasi
interpersonal
D.
Metodologi
Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini, dalam
menganalisis data peneliti memerlukan data pendukung yang berasal dari luar dan
dari dalam perpustakaan. Adapun metode yang digunakan dalam memenuhi data dalam
penulisan makalah ini, penulis mengunakan metode sebagai berikut:
1.
Metode Observasi
Observasi sebagai teknik pengumpulan
data yang digunakan bila, penelitian berkenaan dengan prilaku manusia, proses
kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar[4].
2.
Metode wawancara
Metode wawancara adalah suatu cara pengumpulan data yang
digunakan untuk memperolah informasi langsung dari narasumber yang bersangkutan.[5]
3.
Metode Studi
Pustaka
Studi pustaka adalah mencari data mengenai hal-hal atau
variabel yang berupa catatan, trankip buku, surat kabar, prasasti, notulen
rapat, dan sebagainya dari bahan pustaka. Metode ini diterapkan dengan cara
pengumpulan data mengunakan sumber buku sebagai referensi dalam penyusunan
makalah ini.
E. Kajian
Teori
Menurut DeVito komunikasi interpersonal adalah
komunikasi yang terjadi
diantara dua orang
yang telah memiliki hubungan
yang jelas, yang
terhubungkan dengan beberapa
cara[6]. Hubungan interpersonal diperlukan
untuk dapat menghasilkan komunikasi yang efektif. Komunikasi yang efektif akan
menghasilkan pemahaman, penafsiran, dan tindakan yang tepat[7]
Perpustakaan
adalah sebuah sistem yang
di dalamnya terdapat
unsur tempat (institusi),
koleksi yang disusun berdasarkan sistem
tertentu, dan pemustaka.[8]
Pelayanan pada
hakikatnya adalah serangkaian kegiatan dalam proses pemenuhan kebutuhan melalui
aktifitas orang lain, oleh karena itu pelayanan merupakan proses. Sebagai
proses, pelayanan berlangsung secara rutin dan berkesinambungan[9].
E. Pembahasan
Menurut DeVito komunikasi interpersonal yang efektif adalah
berdasarkan humanistic model dan pragmatic mode[10]. Humanistic model (soft approach)
menunjukan bahwa kualitas komunikasi interpersonal yang efektif di tentukan
oleh lima factor yaitu:
1.
Openness ( keterbukaan )
komunikasi interpersonal akan
efektif apabila terdapat keinginan untuk
membuka diri terhadap lawan bicara
kita, keinginan untuk
bereaksi dengan jujur
pada
pesan yang
disampaikan oleh lawan
bicara kita, keinginan
untuk menghargai bahwa perasaan
dan pemikiran yang
disampaikan selama proses
komunikasi berlangsung adalah kepunyaan kita sendiri (owning of feels and
thought). Dalam situasi seperti
ini diantara pelaku
komunikasi akan tercipta keterbukaan
perasaan dan pemikiran,
serta masing-masing pihak bertanggungjawab atas apa yang disampaikannya.
2.
Emphaty
Mersakan apa yang orang lain rasakan
tanpa kehilangan identitas diri kita dan memahami baik secara emosional maupun
secara intelektual apa yang dialami.
3.
Supportivenees (dukungan)
Komunikasi interpersonal akan
efektif bila tercipta suasana yang mendukung proses komunikasi bersifat
evaluative fleksibel dan tidak kaku.
4.
Possiteveness (sikap positif)
Komunikasi yang efektif apabila
seorang komunikan menunjukkan sikap yang positif dan menghargai keberadaan
orang lain.
5.
Equality
(keselarasan)
Penerimaan dan persetujuan terhadap
orang yang menjadi lawan bicara,harus menyadari bahwa semua orang bernilai dan memeliki swsuatu
untuk bisa dibagi.
Pragmatic model
(behavioural) atau disebut
juga sebagai pendekatan
keras (hard approach) atau (competence model) fokus pada perilaku
tertentu yang harus digunakan oleh pelaku komunikasi interpersonal baik sebagai
pembicara maupun sebagai pendengar apabila ingin
efektif. Faktor ini juga mempunyai lima kemampuan yang harus dimiliki
yaitu
1.
Confidence (percaya diri) maksudnya adalah para pelaku komunikasi interpersonal harus
memilki rasa percaya
diri secara sosial
(social confidence). Seorang socially
confident communicator akan berkomunikasi dengan relax,
tidak kaku dan bisa mengontrol gerakan ubuhnya, tidak gemetar atau malu.
Kualitas kepribadian ini, juga bisa membantu pihak lain merasa lebih nyaman.
2.
Immediacy merujuk pada situasi adanya
perasaan kebersamaan antara pembicara
dan pendenga ddengan menunjukkan
sika memperhatikan,menyenangi dan tertarik pada lawan bicara. Bisa dengan
verbal mauoun non verbal.
3.
Interaction management kemampuan untuk
mengontrol interaksi demi
memuaskan kedua belah
pihak pelaku komunikasi.
4.
Expressiveness kemampuan untuk secara
sungguh-sungguh terlibat dalam
proses komunikasi
5.
Other orientation kemampuan untuk beradaptasi dengan orang
lain selama proses
komunikasi interpersonal
berlangsung.
Kualitas
pustakawan ditentukan oleh
beberapa faktor, antara
lain latar belakang pendidikan
yang akan menentukan
keahliannya, kepribadiannya, dan kemampuan berkomunikasi. Kemampuan berkomunikasi dalam hal ini
komunikasi interpersonal sangat penting,
karena dalam pekerjaannya
pustakawan akan berhadapan
langsung dengan para pemustaka. Keterampilan pustakawan dalam melakukan
komunikasi interpersonal yang efektif akan menentukan keberhasilan pustakawan
tersebut dalam melaksanakan tugasnya.
Mengacu pada yang
telah dijelaskan oleh
DeVito (1992) mengenai
beberapa keterampilan komunikasi
interpersonal yang efektif
yang seharusnya dilaksanakan oleh
mereka yang melakukan
komunikasi interpersonal, maka dengan
memperhatikan situasi dan
kondisi kerja di
lingkungan perpustakaan, untuk profesi pustakawan beberapa
keterampilan komunikasi interpersonal yang efektif yang harus
dimiliki yaitu:
·
Empathy
Maksudnya
adalah pustakawan harus mampu untuk merasakan apa
yang dirasakan oleh orang lain
dalam hal ini
pencari informasi yang
sedang dilayaninya. Misalnya ketika
ada seorang pencari
informasi yang datang mencari
suatu informasi dan
dia mengatakan bahwa
informasi tersebut sangat
dia butuhkan dengan cepat,
karena merupakan bahan
untuk membuat karya
ilmiah dia yang harus
dikumpulkan 2 hari lagi. Pustakawan yang berempati akan
membantu orang yang bersangkutan dengan segera dan berusaha untuk bekerja
dengan lebih cepat, karena dia ikut merasakan bahwa
informasi tersebut sangat
dibutuhkan dan harus diperoleh secepat
mungkin.
·
Supportiveness
Maksudnya adalah pustakawan harus berusaha
menciptakan suasana yang nyaman,
yang fleksibel, dan
mendukung para pencari
informasi untuk berkomunikasi dengan
dia. Tunjukkan sikap
bahwa pustakawan siap membantu
para tamunya. Hindarkan
sikap seolah-olah pustakawan mengawasi para pengunjung
perpustakaan.
·
Positiveness
Maksudnya
adalah pustakawan harus memulai
komunikasi dengan para pengunjung perpustakaan
dengan sikap yang
positif dan menganggap mereka sebagai
orang penting yang
harus diperlakukan dengan
baik. Menyapa pengunjung dengan
kata-kata yang baik
disertai dengan senyuman yang
manis akan membuat
mereka merasa dihargai
dan
sebaliknya mereka juga akan menghargai pustakawan sebagai
professional yang dapat diandalkan.
·
Equality
Maksudnya adalah
pustakawan harus memandang semua yang mengunjungi perpustakaannya merupakan
orang-orang penting yang harus dihormati tanpa
syarat. Jangan
membeda-bedakan perlakuan pada pengunjung hanya karena penampilannya
atau karena gelar akademisnya. Semua pengunjung perpustakaan merupakan pencari
informasi yang harus dibantu secara proporsional, sehingga mereka puas atas
layanan informasi yang diberikan.
·
Confidence
Maksudnya adalah
bahwa dalam melayani para pengunjung perpustakaan, pustakawan harus memiliki
rasa percaya diri. Memang mungkin agak sulit bagi mereka yang memilki sifat
pemalu atau sering cemas, tetapi melalui
latihan dan berusaha
tentunya kesulitan tersebut
bisa diatasi. Tunjukan bahwa pustakawan
adalah orang yang
cerdas, yang menguasai pekerjaannya dengan
baik. Sehingga mereka
akan percaya bahwa pustakawan
merupakan orang yang
dapat diandalkan untuk
dikonsultasi.
·
Immediacy
Maksudnya adalah bahwa pustakawan harus
menunjukkan perhatian, rasa tertarik, dan juga
senang terhadap permasalahan
yang disampaikan oleh pengunjung perpustakaan.
Hal tersebut bisa
diekspresikan secara non verbal
dengan senyuman dan
tatapan mata yang
ramah. Hal ini
akan membangkitkan semangat pengunjung
perpustakaan untuk mau bertanya tentang informasi
yang dibutuhkannya.
·
Interaction
management
Maksudnya
adalah pustakawan harus
mampu mengelola proses komunikasi yang berlangsung antara dia
dengan pencari informasi secara efektif.
Membuat percakapan berjalan lancar, sehingga pencari informasi bisa menyampaikan
dengan jelas apa
yang dibutuhkannya, dan pustakawan pun
memahaminya dengan tepat.
Keterampilan
yang harus dimiliki
pustakawan ketika dia berkomunikasi
interpersonal dengan para pengunjung
yang mencari informasi di
perpustakaan. Diharapkan pustakawan
mampu menerapkan prinsip-prinsip tersebut sehingga bisa
menciptakan proses komunikasi interpersonal yang efektif. Apakah seorang
pengunjung yang mencari informasi
di perpustakaan berhasil mendapatkan informasi
yang dia peroleh
atau tidak, bukanlah
satu-satunya indicator
kualitas pustakawan. Ada
hal yang lebih
penting yaitu pustakawan mampu memberikan
layanan yang memuaskan,
sehingga pengunjung merasa senang dan akan kembali lagi
mengunjungi perpustakaan tersebut.
F. Kesimpulan
Pekerjaan
ini menuntut seorang pustakawan yang yang banyak berinteraksi,berkomunikasi
dalam membangun hubungan baik denga pemustaka maka dengan kemampuan yang baik
akan mempengaruhi pada hasil pekerjaan yang baik.Seorang pustakawan yang
professional harus mampu menguasai kemempuan berkomunikasi interpersonal yang
baik guna tercapainya tujuan yakni memberikan informasi yang tepat dan
memepengaruhi pemustaka untuk selalu menggunakan jasa informasi yang ada di
perpussatkaan. Dengan keterampilan ini seorang pustakawan diharapkan dapat membangun
dan menanamkan
citra positif seperti yang diinginkan, karena
dia
tahu cara memberikan layanan yang sesuai dengan
kebutuhan, keinginan dan karakter pemustaka.
DAFTAR PUSTAKA
Damayani, Ninis
agustini 2005. Interpersonal Skills Dalam Pelayanan Perpustakaan Dari
http:// library.usu.ac.id. diakses
24 November 2014.
DeVito, Joseph A. 1992. The Interpersonal Communication
Book. 6th ed. New York:
Harper
Collins.
Elfindri, et al.
2010. Soft Skills untuk Pendidik. t.k.: Baduose Media.
Majalah
Universitas Indonesia 2008,UI .Depok : Penerbit PT.Indo Multi Media.
Moenir, A. S. 1995. Manajemen
Pelayanan Umum. Jakarta: Bumi Aksara.
Syihabudin
Qalyubi. 2007. Dasar-Dasar Ilmu
Perpustakaan dan Informasi. Yogyakarta:
Jurusan
Ilmu Perpustakaan dan
Informasi Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Subagyo Ernalia
(2008). Peningkatan Soft Skill
Pustakawan Dalam Pencapaian Layanan
Prima Menuju Proses Pembelajaran Mandiri : Musda & Seminar.http://www.mail-archive.com.
Diakses tanggal 24Novemebr 2014
Sugiono (1999).
Metode Penelitian Atministrasi. Bandung : Alfabat.
[2]
Damayani.Pustaha:
Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol. 1, No. 1, Juni 2005
[3]
Subagyo
Ernalia. Peningkatan Soft Skill Pustakawan Dalam Pencapaian Layanan Prima
Menuju Proses Pembelajaran Mandiri :
Musda & Seminar 2008.hal.1
[4]
Sugiyono, Metode Penelitian Administarasi.
(Bandung.CV. Alfabet.1999) .Hal.145
[5]
Ibid hal.137
[6]
Joseph A
DeVito. The Interpersonal Communication Book. 6th ed.
(New York: Harper Collins.1992)hal.11
[8]
Syihabudin Qalyubi. Dasar-Dasar Ilmu
Perpustakaan dan Informasi. (Yogyakarta: Jurusan
Ilmu Perpustakaan dan
Informasi Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.2007)
hal.27
[9]
Moenir, A. S. Manajemen Pelayanan Umum. (Jakarta: Bumi Aksara:1995). Hal.27
[10]
Joseph A
DeVito. The Interpersonal Communication Book. 6th ed.
(New York: Harper Collins.1992)