STRATEGI
PRESERVASI SUMBER INFORMASI DIGITAL SEBAGAI
PENGEMBANGAN KOLEKSI DI PERPUSTAKAAN
A.
Latar Belakang
Era digital berkembang
ditandai dengan munculnya tiga teknologi, yaitu: komputer, komunikasi dan
multimedia. Perkembangan ketiga teknologi telah membuat muatan informasi atau
pesan dalam komunikasi tidak lagi hanya berupa teks, angka, gambar saja, melainkan
dapat berupa suara, atau bahkan berupa gambar yang bergerak (film, video) tak
ubahnya menikmati siaran langsung seperti melalui stasiun radio atau siaran
televisi. Bahkan dengan perkembangan teknologi yang mampu memampatkan ukuran
data atau informasi untuk kemudian diurai kembali setelah sampai di tujuan,
membuat transfer informasi dan data dapat menjadi lebih cepat dan mempermudah
aktivitas pelayanan kepada masyarakat.
Salah satu isu penting dalam dunia perpustakaan di era informasi
ini adalah isu tentang pelestarian digital (digital preservation).
Perpustakaan sebagai institusi yang melakukan kegiatan pengumpulan, pengolahan,
penyimpanan, pelestarian, dan penyebaran pengetahuan dan budaya, berperan penting
dalam melakukan pelestarian digital. Apalagi bila sebagian atau seluruh koleksi
perpustakaan tersedia dalam format digital, maka kegiatan melestarikan materi
digital menjadi suatu hal yang tak dapat dihindari lagi atau menjadi suatu
keharusan.
Pertumbuhan yang pesat dalam produksi informasi berbasis elektronik
telah melahirkan ungkapan digital library. Perpustakaan digital adalah
suatu lingkungan perpustakaan di mana berbagai objek informasi (dokumen, images,
suara dan video-clips) disimpan dan diakses dalam bentuk elektronik.
Objek tersebut terekam dalam berbagai jenis media komputer termasuk CD. Bahan
jenis ini sebagian besar tersedia untuk diakses melalui internet atau dimuat
dalam komputer stand-alone atau jaringan lokal[1].
Perkembangan teknologi mampu memampatkan ukuran data atau
informasi untuk kemudian diurai kembali setelah sampai di tujuan, membuat
transfer informasi dan data dapat menjadi lebih cepat. Selain mempercepat
proses dalam aktivitas sehari-hari, format data digital juga mempermudah
aktivitas pelayanan kepada masyarakat.
Hal itu karena menyangkut keberadaan dan keberlangsungan
nilai-nilai informasi. Sebuah informasi menjadi bernilai apabila mudah dicari
dan ditemukan kembali. Pelestarian materi digital dimaksudkan agar informasi
yang tersimpan dalam format digital dapat diakses dengan mudah dan tersedia
dalam jangka waktu yang selama-lamanya.
Namun dengan media
tempat menyimpan informasi digital selalu mengalami degradasi dan bisa rusak
tanpa pemberitahuan sama sekali. Perangkat keras dan lunak seringkali
ketinggalan zaman tanpa kita sadari. Karena itu perlu diperhatikan manajamen
daur hidup (lifecycle management) koleksi digital yang disimpan. Untuk
itu diperlukan pelestarian terhadap koleksi digital ini. Disini penulis akan
menjelaskan bebrapa cara atau strategi yang digunakan dalam preservasi digital
di perpustakaan sehingga koleksi digital yang ada di perpustakaan bisa semakin
lama dan bisa digunakan oleh pemustaka.
B. Rumusan
Masalah
Bagaimana strategi
preservasi digital yang digunakan di perpustakaan STIKES ‘Aisyiyah Surakarta
untuk pengembangan koleksi?
C. Tujuan
1.
Memudahkan
mencari sumber informasi kembali
2.
Memperpanjang
usia koleksi digital
3.
Memyelematkan
sumber informasi
D. Kajian
Teori
Digital libraries are organizations that provide the resources,
including the specialized
staff, to select, structure, offer intellectual access to, interpret, distribute, preserve the integrity of, and ensure the persistence overtime of collections of digital works so that they
are readily and economically available for use by a defined community or set of communities. Perpustakaan Digital berbagai organisasi yang menyediakan sumberdaya, termasuk pegawai yang terlatih khusus, untuk memilih, mengatur, menawarkanakses, memahami, menyebarkan, menjaga
integritas, dan memastikan keutuhan karyadigital, sedemikian rupa sehingga koleksi
tersedia dan terjangkau secara ekonomis olehsebuah atau sekumpulan komunitas yang
membutuhkannya)[2].
staff, to select, structure, offer intellectual access to, interpret, distribute, preserve the integrity of, and ensure the persistence overtime of collections of digital works so that they
are readily and economically available for use by a defined community or set of communities. Perpustakaan Digital berbagai organisasi yang menyediakan sumberdaya, termasuk pegawai yang terlatih khusus, untuk memilih, mengatur, menawarkanakses, memahami, menyebarkan, menjaga
integritas, dan memastikan keutuhan karyadigital, sedemikian rupa sehingga koleksi
tersedia dan terjangkau secara ekonomis olehsebuah atau sekumpulan komunitas yang
membutuhkannya)[2].
Preservasi
perpustakaan digital adalah proses memilih, mengadakan, mengolah, melayankan,
serta memelihara dokumen atau data digital sehingga dapat dimanfaatkan dalam
waktu yang lama secara internal oleh publik sesuai dengan kaidah, norma dan
kode etik yang berlaku[3].
Preservasi adalah semua kegiatan yang bertujuan memperpanjang umur bahan
pustaka dan informasi yang ada di dalamnya [4].
Selain itu definisi lain juga menyebutkan preservasi digital adalah upaya
memastikan agar materi digital tidak bergantung pada kerusakan dan perubahan
teknologi. Secara umum preservasi digital mencakup berbagai bentuk kegiatan,
mulai dari kegiatan sederhana menciptakan tiruan (replika atau copy) dari
sebuah materi digital untuk disimpan, sampai kegiatan transformasi digital yang
cenderung rumit[5].
E. Pembahasan
Pelestarian bahan
digital berbeda dengan materi bahan non digital. Karena kandungan materi
informasi bahan pustaka dapat di lestarikan dengan cara merawat fisik kertas
dan kemasanya. Sedangkan informasi digital tidak saja melekat pada objek
fisiknya,tetapi juga merupakan sesuatu yang harus dijalankan dengan memakai
suatu perangkat lunak dan perangkat keras. Dengan demikian pelestraian materi
digital bukan karena semata-mata objek fisiknya saja tetapi juga dengan cara
menjamin penggunaan mesin dalam ruang dan waktu yang sepanjang mungkin.
Ada beberapa hal yang
mendorong melakukan pelestarian materi digital adalah:
·
Informasi
dalam bentuk materi digital sulit bertahan dalam jangka waktu lama.Hal ini
disebabakan karena
1.
Kadaluarsa
perangkat lunak dan perangkat keras yang di pakai untuk membaca materi digital
karena perkembangan teknologi yang sanga cepat.
2.
Kerusakan
mekanisme pada perangkat keras
3.
Serangan
virus dan hacker
·
Materri
digial bila hilang terjadi secara tiba-tiba tanpa ada peringatan terlebih
dahulu dan hilangnya secara permanen
·
Maasalahyang
berkaitan dengan keotentikan naskah dan hak cipta materi digital lebih kompleks
dibandingkan dengan bahan pustaka tecetak karena materi mudah diubah oleh siapa
saja dan dapat di copy secara luas.
Preservasi digital
merupakan kegiatan yang terencana dan terkelola untuk memastikan agar sebuah
objek informasi digital tidak mengalami kerusakan sehingga dapat diakses dalam
jangka waktu yang panjang. Lavoie dan Dempsey (2004) dalam Pendit (2009:111)[6]
merumuskan pelestarian digital sebagai kegiatan yang memliki karakteristik
yakni:
1.
Terus
Menerus
Jika pelestarian buku
sering kali dilakukan pada satu titik waktu tertentu dalam siklus hidup buku
itu, maka pelestarian digital dilakukan sejak sebuah objek disimpan. Dengan
kata lain, pelestarian digital lebih tepat dilihats ebagai proses terus
menerus, sehingga kadang tak ada bedanya dengan kegiatan rutin.
2.
Konsensus
Diperlukan keputusan dan kepastian tentang apa dan bagaimana pelestarian
terhadap suatu objek dilakukan. Pelestarian tak dapat diseragamkan untuk semua objek. Dalam lingkungan digital, keputusan ini tak hanya menyangkut nilai kandungan sebuah objek, namun juga kadar kualitas objek tesebut.
Diperlukan keputusan dan kepastian tentang apa dan bagaimana pelestarian
terhadap suatu objek dilakukan. Pelestarian tak dapat diseragamkan untuk semua objek. Dalam lingkungan digital, keputusan ini tak hanya menyangkut nilai kandungan sebuah objek, namun juga kadar kualitas objek tesebut.
3.
Berbagi Tanggung Jawab
Sama dengan
pelestarian di dunia non-digital, pelestarian memerlukan pembagian
tanggungjawab, khususnya menyangkut upaya memastikan bahwa sebuah objek dapat
bertahan hidup selama mungkin. Dalam dunia digital pun harus ada tanggung jawab
di pihak produsen objek digital,setidaknya dalam memastikan integritas objek
tersebut, atau dalam berbagi sumber daya seandainya sebuah objek digital
memerlukan program-program khusus untuk menghidupkannya.
4.
Melalui
Seleksi
Pelestarian harus
dibedakan dari semata-mata menyimpan apapun yang dapat disimpan. Dalam era
digital yang ditandai dengan kelimpahruahan dan dinamika, seleksi seksama
terhadap objek mana yang perlu dilestarikan dan mana yang tidak perlu, menjadi
sangat penting.
5.
Dapat
Didanai
Biar bagaimana pun, pelestarian
digital menimbulkan ongkos tambahan yang tidak sedikit. Banyak institusi atau
badan pemerintah yang belum apa apa sudah khawatir membayangkan jumlah dana
yang diperlukan. Salah satu sumber kekhawatiran ini biasanya adalah justru
karena institusi atau badan pemerintah itu belum mempunyai cara yang paling
tepatuntuk memprediksi ongkos pelestarian digital.
6.
Kegiatan
Koopertatif
Pelestarian digital
dilakukan sebagai bagian dari kerjasama lintas lembaga, lintas daerah, dan
bahkan lintas negara.Kenyataan bahwa objek digital yang akan dilestarikan juga
seringkali menjadi bagian dari internet yang tak mengenal batas negara,
menambah kuat alasan untuk melakukan kegiatan pelestarian secara bersama-sama.
7.
Memerlukan
Legalitas
Objek digital sering
menimbulkan perdebatan tentang kepentingan individual dan kepentingan umum yang
lebih besar, maka perlu disiapkan terkait dengan hak cipta dalam hal ini perlu negosiasi
antara pihak perpustakaan dengan penulis, sehingga kegiatan akan dapat
dilakukan secara legal.
8.
Berpencar
Kegiatan preservasi
digital dapat dilakukan secara terpencar terutama terkait dengan tanggungjawab
dan kerjasama lembaga. Sebuah institusi juga dapat membayar pihak luar
(contractingout) untuk melakukan kegiatan yang
membutuhkan banyak pekerja tetapi hanya dalam jangka waktu tertentu.
9.
Berdampingan
Pelestarian digital
tak selalu harus dilihat sebagai kegiatan yang terlepas sama sekali dari
aktivitas sebuah institusi informasi yang masih mempunyai sejumlah besar
koleksi non-digital.Pelestarian digital dapat berjalan berdampingan dengan
kegiatan yang lain.
10. Terukur dan benar
Pada awalnya, karena
perkembangan teknologi yang amat cepat, banyak institusi menggunakan
strategitrial-anderror, tetapi sejalan dengan waktu mulai ada silang pengalaman
dan kesempatan bench-marking. Beruntunglah perpustakaan di negara-negara yang memiliki
pemerintahan yang serius memperhatikan pelestarian digital, dan yang akhirnya
melaksanakan sebuah upaya terkoordinasi antar lembaga.
11. Melahirkan Bisnis Baru
Di era digital, sumber
daya yang diperlukan untuk melakukan pelestarian seringkali berada di luar jangkauan
institusi-institusi sehingga memunculkan bisnis yang melibatkan penjaja (vendor) khusus
bidang pelestarian.
12. Sebagai Salah Satu Pilihan
Materi atau objek yang
born-digital seringkali memang tidak memberikan pilihan lain selain
dilestarikan sebagai objek digital. Namun juga ada materi digital yang mungkin
lebih baik dilestarikan dalam bentuk analog. Pada prakteknya, jika objek
digital terlalu riskan untuk disimpan dalam bentuk digital, banyak institusi
yang memutuskan untuk membuat bentuk analognya.
13. Kepentingan Umum
Salah satu keuntungan
dari pelestarian digital yang dikombinasikan dengan keterbukaan akses adalah
dalam hal potensi pemanfaatannya bersama secara meluas dengan biaya minimal.
Digitasi buku tercetak ke dalam bentuk digital akan menjadikannya sebagai benda
eksklusifyang hanya dapat dibaca dengan mengunjungi perpustakaan yang
menyimpannya. Dalam bentuk objek digital akan menyebabkan benda tersebut “milik
umum” dalam arti yang sesungguhnya, terutama jika ia tersedia lewat internet
dan mudah diakses dari mana saja
Untuk
menyelamatkan nilai informasi sebagai upaya dalam pelestarian koleksi digital
agar dapat dimanfaatkan dalam waktu yang relative lebih lama dan terhindar dari
kerusakan terhadap koleksi digital ada bebrapa strategi pelestarian digital
antara lain:
·
Technology
Preservation
Pelestarian
teknologi merupakan tindakan pemeliharaan terhadap hardware (perangkat keras)
dan software (perangkat lunak) yang mendukung sumber daya (koleksi) digital untuk
membaca atau menjalankan sebuah objek digital. Terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan
dari cara ini. Kelebihan yang didapatkan diantaranya pertama, dengan meyimpan
perangkat keras dan perangkat lunak aslinya, maka tampilannya akan sama dengan
dokumen aslinya. Kedua, pelestarian teknologi merupakan solusi pelestarian yang
praktis dalam jangka pendek. Ketiga, dengan pelestarian teknologi, kebutuhan
untuk mengimplementasikan strategi pelestarian lainnya dapat ditunda. Selain
kelebihan-kelebihan yang telah disebutkan,strategi ini juga memiliki kelemahan.
Karena merupakan strategi dalam jangka pendek maka diperlukan tindak yang
berkelanjutan.
·
Refreshing
Perawatan
dengan mencermati usia media sehingga perlu pemindahan data dari media yang
satu ke media lainnya.Tujuan utama dari refresing ini adalah untuk menciptakan koleksi
digital yang sifatnya stabil. Kelebihan dari strategi ini adalah mudah
diterapkan dan resiko kehilangan data dalam proses pemindahan data sangat kecil.
·
Migration
& Reformatting
Mengubah
konfigurasi data digital tanpa mengubah kandungan isi intelektualnya.
Strategi migrasi memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan. Beberapa
kelebihan strategi migrasi tersebut antara lain pertama, perpustakaan tidak
perlu meyimpan aplikasi originalnya. Kedua, memungkinkan manajemen dan
perawatan secara aktif. Ketiga, format standar menawarkan akses yang stabil dan
berkelanjutan. Keempat, dengan strategi migrasi isi intelektual dari koleksi digital
ini dapat dilestarikan Adapun kelemahan-kelemahan strategi ini adalah diperlukannya perawatan secara berkelanjutan seiring dengan perkembangan teknologi sehingga menghabiskan banyak biaya.
Strategi migrasi memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan. Beberapa
kelebihan strategi migrasi tersebut antara lain pertama, perpustakaan tidak
perlu meyimpan aplikasi originalnya. Kedua, memungkinkan manajemen dan
perawatan secara aktif. Ketiga, format standar menawarkan akses yang stabil dan
berkelanjutan. Keempat, dengan strategi migrasi isi intelektual dari koleksi digital
ini dapat dilestarikan Adapun kelemahan-kelemahan strategi ini adalah diperlukannya perawatan secara berkelanjutan seiring dengan perkembangan teknologi sehingga menghabiskan banyak biaya.
·
Emulation
Proses penyegaran di lingkungan sistem. Artinya secara teoritis dapat dilakukan pembuatan ulang secara berkala terhadap program computer tertentu agar dapat terus membaca data digital yang terekam dalam berbagai format dari berbagai versi. Kelebihan strategi ini antara lain pertama, menjaga tampilan seperti pada dokumen aslinya. Kedua, merupakan strategi jangka panjang, sehingga tidak perlu campur tangan langsung dari staf perpustakaan. Ketiga, dapat diterapkan secara terpisah untuk seluruh koleksi digital. Sedangkan kelemahan strategi emulasi ini pertama, perangkat lunak emulasi (emulator) membutuhkan biaya yang cukup mahal. Kedua, dalam menciptakan spesifikasi emulator sangat kompleks sehingga dapat menyulitkan staf perpustakaan. Ketiga, informasi yang harus dilestarikan menjadi lebih banyak. Keempat, karena berbentuk perangkat lunak terdapat kemungkinan perangkat lunak tersebut akan mengalami ketertinggalan teknologi.
Proses penyegaran di lingkungan sistem. Artinya secara teoritis dapat dilakukan pembuatan ulang secara berkala terhadap program computer tertentu agar dapat terus membaca data digital yang terekam dalam berbagai format dari berbagai versi. Kelebihan strategi ini antara lain pertama, menjaga tampilan seperti pada dokumen aslinya. Kedua, merupakan strategi jangka panjang, sehingga tidak perlu campur tangan langsung dari staf perpustakaan. Ketiga, dapat diterapkan secara terpisah untuk seluruh koleksi digital. Sedangkan kelemahan strategi emulasi ini pertama, perangkat lunak emulasi (emulator) membutuhkan biaya yang cukup mahal. Kedua, dalam menciptakan spesifikasi emulator sangat kompleks sehingga dapat menyulitkan staf perpustakaan. Ketiga, informasi yang harus dilestarikan menjadi lebih banyak. Keempat, karena berbentuk perangkat lunak terdapat kemungkinan perangkat lunak tersebut akan mengalami ketertinggalan teknologi.
·
Digital Archeology
Menyelamatkan isi
dokumen yang tersimpan dalam media penyimpanan ataupun perangkat keras dan
perangkat lunak yang sudah rusak, sehingga isi dokumen tersebut tetap dapat
digunakan. Strategi ini merupakan strategi dengan biaya yang rendah tetapi memiliki
resiko yang tinggi, karena dengan hanya memperbaharui media penyimpanannya
terdapat kemungkinan data tersebut tidak akan terbaca ketika perpustakaan telah
menggunakan teknologi yang baru.
·
Mengubah
data digital menjadi analog
Materi
digital yang sulit diselamatkan dengan semua cara yang disebutkan di atas.
Berbeda dengan koleksi dalam bentuk analog yang lebih berusia panjang dan
memiliki daya tahan lama, koleksi digital mempuyai kelemahan berupa sifat rapuh
dan tidak tahan lama. Untuk mempertahankan koleksi digital agar dapat diakses
oleh pengguna, koleksi digital dapat dialihbentukkan ke dalam media analog.
Selain dialihkan ke dalam bentuk mikrofilm, strategi ini dapat dilakukan dengan
membuat printout atau mencetak kembali dokumen yang telah didigitalisasi.
F. Strategi
preservasi koleksi digital di perpustakaan STIKES ‘Aisyiyah Surakarta.
Di perpustakaan STIKES
‘Aisyiyah Surakarta ini selain koleksi cetak, terdapat pula koleksi digital
sebagai koleksi perpustakaan. Tentunya di masing-masing perpustakaan cara
preservasi koleksi digital yang dilakukan ada yang sama ada pula yang tidak.
Dan itu bergantung pada kesadaran masing-masing pustakawan dalam melestarikan
dan menjaga koleksi yang dimiliki agar tetap bisa dimanfaatkan oleh user. Koleksi digital yang
dimiliki oleh perpustakaan STIKES ‘Aisyiyah Surakarta ini meliputi e-book dan
e-journal serta skripsi, tesis dan laporan penelitia yang telah dialihmediakan
dalam bentuk digital yang berformat pdf.
Tempat penyimpanan yang
dipakai untuk menyimpan koleksi digital berupa hard disk, CD dan juga Flash
disk. Mereka memiliki back-up data pada setiap koleksi digital yang dimiliki,
tetapi masih belum maksimal dikarenakan mereka hanya menyimpan saja belum ada
perlakuan khusus terhadap koleksi digital tersebut. Untuk metode preservasi
yang digunakan oleh perpustakaan STIKES ‘Aisyiyah Surakarta menyangkut dengan
koleksi digitalnya hanya menggunakan metode Refresing. Yaitu dengan memindahkan
file digital dari satu media penyimpanan ke media penyimpanan lain yang
mempunyai tipe sama.
Pernah dulu sempat akan
diusullkan menggunakan Migrasi (proses transfer koleksi digital secara periodik
dari perangkat keras atau perangkat lunak satu ke lainnya yang lebih baru
(up-todate) untuk melestarikan koleksi digital dan agar koleksi digital
tersebut dapat diakses dari masa ke masa), sudah pernah diprogramkan oleh
perpustakaan. Namun belum pernah diaplikasikan oleh perpustakaan STIKES
‘Aisyiyah Surakarta dikarenakan tenaga yang kurang memadai dan waktu yang
dibutuhkan menungkinkan akan menyita waktu, sehingga perpustakaan hanya
menggunakan metode Refresing sebagai metode preservasinya hingga saat ini.
G.
Kesimpulan
Kegiatan preservasi
digital sebenarnya adalah memastikan informasi yang tersimpan dalam media
digital tersebut tetap dapat diakses oleh siapapun yang memerlukannya baik di
masa kini ataupun di masa yang akan datang. Pustakawan bagian preservasi hendaknya memiliki
pengetahuan khusus tentang preservasi agar koleksi perpustakaan yang membutuhkan
penanganan khusus tidak diperlakukan sembarangan. Dan juga hendaknya petugas
preservasi diberikan pelatihan khusus mengenai cara preservasi digital yang
sesuai dengan standart dan aturan yang telah ditetapkan. Perpustakaan yang telah mengambil keputusan
untuk melakukan preservasi digital seharusnya mempertimbangkan resiko untuk
setiap format digital yang hendak dilestarikan, sebab setiap format langsung
berkaitan dengan perangkat lunak dan perangkat keras yang menjalankannya.
Daftar Pustaka
A.Ridwan Siregar, 2004. Perpustakaan Energi Pembangunan
Bangsa, Medan : USU Pres.
Mustafa. B.2008. Materi
Kuliah Preservasi Dokumen Digital, Bogor: Program S2 MTIP
IPB.
Pendit, Putu Laxman. .2008. Perpustakaan Digital dari A
sampai Z. Jakarta: Cita Karyakarsa
Mandiri.
________________. .2009.
Perpustakaan Digital:Kesinambungan & Dinamika. Jakarta: Cita
Karyakarsa Mandiri.
Wendy Smith dalam Purwono.2009, Dasar-dasar Dokumentasi :
Pelestarian Dokumen.
Jakarta : Universitas
Terbuka.
[1]
A.Ridwan Siregar, Perpustakaan Energi
Pembangunan Bangsa, (Medan : USU Pres. 2004), hlm.55
[2] Pendit, Putu
Laxman. . Perpustakaan Digital dari A sampai Z. (Jakarta: Cita Karyakarsa Mandiri,2008) hal.3
[3]
Mustafa. B. Materi Kuliah Preservasi Dokumen Digital, (Bogor:
Program S2 MTIP IPB 2008)
[4]
Wendy Smith dalam Purwono, Dasar-dasar Dokumentasi :
Pelestarian Dokumen. (Jakarta : Universitas Terbuka, 2009), hlm.
217.
[5]
Putu Laxman Pendit, Perpustakaan Digital dari A
sampai Z, (Jakarta : Cita Karyakarsa Mandiri, 2008), hlm. 248
[6] Pendit, Putu
Laxman.2009. Perpustakaan Digital:Kesinambungan & Dinamika. (Jakarta: Cita
Karyakarsa Mandiri,2009) hal.111
Tidak ada komentar:
Posting Komentar