Selasa, 15 Desember 2015

Konsep KM Perpustakaan



PENERAPAN KONSEP KNOWLEDGE MANAGEMENT (KM)
DI PERPUSTAKAAN SEBAGAI PUSAT BELAJAR
A. Latar Belakang
Knowledge Management seakan menjadi tantangan baru dan ancaman bagi para pustakawan karena perannya tak jauh beda dengan definisi-definisi yang masih berproses ilmiah. Fenomena ini merupakan hal baru dalam institusi perpustakaan dimana beberapa tahun terakhir ini banyak dibicarakan perkembangan yang mnurut sebagian orang merupakan konsep baru.
Pada era globalisasi ini masalah utama yang di hadapi bangsa kita, khususnya dalam bidang pendidikan adalah rendahnya tingkat kualitas sumberdaya manusia. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah mengembangkan minat baca dan kebiasaan membaca. Perpustakaan yang mempunyai fungsi sebagai pusat informasi dan ilmu pengetahuan mempunyai peranan besar terhadap peningkatan dan pengembangan minat dan kegemaran membaca.
 Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam era globalisasi sekarang ini berjalan begitu cepat. Kemampuan akan dua hal tersebut menjadi salah satu daya saing yang sangat pernting. Ketika suatu institusi atau lembaga terutama yang bergerak dalam bidang pendidikan yang ingin meningkatkan kualitasnya,maka dibutuhkan tingkat pengetahuan yang sangat luas pada setiap sumber daya manusia (SDM) yang ada sehingga mampu untuk berkompetensi dan menunjukkan eksistensinya.
Proses siklus perputaran knowledge sangat cepat sekali, apalagi didukung dengan teknologi informasi seperti internet-platform kolaborasi untuk transfer tacit knowledge, digital library untuk management explicit knowledge dan kemampuan analisis dalam mengolah data menjadi knowledge menjadi terasa sebagai sebuah kesatuan terpadu dibantu teknologi informasi yang berfokus pada konsep knowledge management[1].
Kemajuan teknologi informasi menjanjikan kemudahan dalam knowledge management terutama bagi lembaga dalam bidang pengelolaan informasi secara elektronis termasuk perpustakaan. Perpustakaan sebagai salah satu penyedia informasi (information provider) harus berjalan seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi dan kebutuhan informasi pemustaka.
Teknologi internet merupakan bagian integral dari kehidupan sehari-hari membuat pada perilaku masyarakat pencari informasi menjalani banyak perubahan. Sumber daya elektronik yang tersedia melalui internet menjadi sasaran pertama bagi para pencari informasi. Perpustakaan tradisional merupakan penyedia utama sumber daya informasi dihadapkan pada tantangan baru untuk menyediakan informasi yang relevan dan tepat waktu serta berasal dari banyak sumber. Pustakawan dituntut sebagai subyek yang dapat memberdayakan pengetahuan untuk diterapkan di lingkungan perpustakaan.
Suatu organisasi ketika ingin mencapai visi dan misi harus mengeloal perpustakaan yang dimilikinga dengan baik agar dapat bersaing dengan organisasi yang lain. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan konsep managemen pengetahuan atau knowledge management pada organisasi tersebut. Tidak terkecuali pada perpustakaan sebagai institusi maka untuk menghadapi persaingan dan tuntutan yang semakin tinggi memerlukan penerapan manajemen pengetahuan agar dapat menjawab setiap tuntutan tugas layanan.
B. Rumusan Masalah
            Berdasarkan tulisan yang dikemukakan di atas ada beberapa fenomena tentang manajemen pengetahuan, penulis mencoba mengesploitasi Bagaimana penerapan manajemen pengetahuan di perpustakaan?
C. Tujuan dan Manfaat
1.      Membuktikan bahwa manajemen pengetahuan sangat memberikan dampak yang besar dalam penyebarluasan informasi pengetahuan.
2.      Memaksimalkan sejauh mana konsep knowledge management dapat diterapkan dalam perpustakaan
D. Pembahasan
Pemahaman konsep pengetahuan dan informasi menimbulkan berbagai penafsiran berbeda-beda. Para ahli dibidang informasi menyebutkan bahwa informasi adalah pengetahuan yang disajikan kepada seseorang dalam bentuk yang dapat dipahami; atau data yang telah diproses atau ditata untuk menyajikan fakta yang mengandung arti. Sedangkan pengetahuan berasal dari informasi yang relevan yang diserap dan dipadukan dalam pikiran seseorang. Sedangkan pengetahuan berkaitan dengan apa yang diketahui dan dipahami oleh seseorang. Informasi cenderung nyata, sedangkan pengetahuan adalah informasi yang diinterpretasikan dan diintegrasikan[2].
Menurut Laudon manajemen pengetahuan berfungsi meningkatkan kemampuan organisasi untuk belajar dari lingkungannya dan menggabungkan pengetahuan ke dalam proses bisnis.  Manajemen pengetahuan adalah serangkaian proses yang dikembangkan dalam suatu organisasi untuk menciptakan, mengumpulkan, memelihara dan mendiseminasikan pengetahuan organisasi tersebut[3].
Penerapan KM ke dalam sistem perpustakaan perguruan tinggi dilakukan sebagai salah satu upaya menerapkan dan meningkatkan apa yang menjadi tugas pokok dan fungsi pustakawan. Dalam hal ini utamanya adalah sebagai unit penunjang kegiatan perkuliahan bagi civitas akademika (dosen dan mahasiswa) dalam mendukung terciptanya Tridarma Perguruan Tinggi. Keberadaan perpustakaan perguruan tinggi sebagai lembaga yang mendukung dalam proses pembelajaran sangat penting. Hal ini tidak bisa lepas dengan fungsi perpustakaan Sulistyo-Basuki (1993) yaitu :
·       Merekam pengetahuan, perpustakaan sebagai tempat untuk mengakumulasi rekaman pengetahuan manusia pada jamannya. Dengan tujuan untuk mengingat dan menyampaikan pengetahuan. Dengan adanya akumulasi pengetahuan muncul peluang untuk melakukan penelitian.
·       Perpustakaan mempunyai fungsi pendidikan dan penelitian. Hasil pendidikan dan penelitian ditulis dalam bentuk buku, artikel dan sebagainya, kemudian dikelola di perpustakaan untuk dapat digunakan kembali dalam proses pendidikan dan penelitian.
·       Fungsi kebudayaan untuk menyimpan hasil dari budaya masyarakat.
·       Fungsi rekreasi, yang dimaksud rekreasi di sini adalah suatu proses yang dilakukan seseorang dalam menciptakan ide-ide baru atau menjadi kreatif kembali dari koleksi-koleksi yang tersedia di perpustakaan. Mencermati fungsi tersebut perpustakaan mempunyai peran besar dalam proses silklus informasi pada lingkup civitas akademika di lingkungan perguruan tinggi. Untuk itu agar perpustakaan dapat memerankan posisi strategi berkaitan dengan arus informasi di lingkungan perguruan tinggi, maka perpustakaan perlu melakukan kreatifitas dalam mengelola perpustakaan. Sehingga perpustakaan tidak akan ditinggalkan atau tertinggal dari proses perubahan yang terjadi di lingkungan masyarakat akademik[4].
Knowledge Management memang diakui beberapa pakar masih menjadi konsep yang cair. Dalam arti konsep ini belum menjadi konsep yang baku dalam bidang tertentu. Walaupun sejarah awal lahir dari dunia industry, sebagai pendorong inovasi dalam pengembangan produk. Namun konsep ini dapat diadopsi bidang-bidang lain sebagai sasaran untuk memacu inovasi. Bidang perpustakaan cocok untuk mengadopsi konsep ini. Hal ini terkait dengan fungsi perpustakaan sebagaimana tersebut di atas. Sehingga ada korelasi yang positif yang dapat digunakan untuk pengembangan perpustakaan yang saat ini sedang menghadapi banjir informasi.
Langkah-langkah bagaimana dapat dilakukan perpustakaan dalam menerapkan konsep knowledge management, melalui beberapa tahapan. Adapun tahapan yang dapat dilakukan perpustakaan dalam menerapkan knowledge management, yaitu;
·         Melakukan evaluasi terhadap sistim perpustakaan yang telah ada. Proses ini akan memberikan pemahaman kepada kita tentang permasalahan mendasar yang terjadi pada perpustakaan.
·         Identifikasi kebutuhan. Dalam hal ini, sebagai konsumen perpustakaan di perguruan tinggi adalah mahasiswa dan dosen. Berarti tujuan perpustakaan adalah menyediakan pengetahuan yang dibutuhkan oleh mereka, yaitu sebagai penyalur pegetahuan[5].
Menurut Jafar Basri (2004) Prinsip dasar penerapan knowledge management adalah untuk memperbaiki sistem di perpustakaan yang saat ini sedang berjalan, sehingga proses transfer pengetahuan atau informasi yang ada di perpustakaan berjalan dengan baik dan berjalan secara simultan.
Selanjutnya untuk menerapkan knowledge management di perpustakaan dengan merujuk ruang lingkup knowledge management ke dalam pepustakaan. Adapun ruang lingkup tersebut, mencakup::
·         Creation. Perpustakaan adalah media untuk melakukan transfer pengetahuan. Hal ini akan mendukung proses pengembangan pengetahuan. Perpustakaan harus mampu menjadi pemicu (trigger) perkembangan pengetahuan, khususnya perguruan tinggi. Dalam hal ini, pengguna utama perpustakaan adalah mahasiswa dan dosen. Perpustakaan yang berkualitas akan mendukung ke arah berkembangya penelitian dan pengetahuan.
·         Utilization. Konsep utilization berhubungan dengan sistem perpustakaan. Dalam perguruan tinggi, perpustakaan adalah bagian penting. Atau dengan kata lain, perpustakaan adalah sebuah sub sistem perguruan tinggi. Pemustaka (user) perpustakaan adalah dosen dan mahasiswa, dan peneliti. Jadi seberapa tinggi tingkat utilitasnya, tergantung sberapa sering pengguna tersebut memanfaatkan perpustakaan.
·         Storing adalah salah satu proses transfer pengetahuan dan pengguna mendapatkan pengetahuan sehingga tingkat pemahamannya akan berkembang.
·         Acquisition berarti kemahiran. Dalam hal ini, transfer pengetahuan yang diberikan oleh perpustakaan harus mampu memberikan nilai tambah bagi pengunjungnya..
·          Distribution/sharing. Konsep ini menjelaskan tentang bahwa harus ada proses distribusi pengetahuan. Jika dihubungkan dengan sistem perpustakaan, perpustakaan harus mampu berfungsi sebagai transfer pengetahuan..
·          Structure. Konsep struktur mengarah tentang bagaimana struktur transfer pengetahuan. yang benar-benar mendukung tujuan utama, yaitu transfer pengetahuan.
·         Tecnology. Teknologi adalah suatu alat (tool) yang digunakan dalam mengembangkan sistem perpustakaan. Perkembangan teknologi informasi akan memberikan kemudahan kepada pengguna perpustakaan dan sistem pelayanannya.
·         Measurement. Secara umum, Korelasi dengan sistem perpustakaan adalah dalam sistem perpustakaan diperlukan sebuah sistem pengukuran keberhasilan tujuan .
·         Organizational design. Konsep ini mengarah kepada struktur organisasi perpustakaan. Struktur organisasi perpustakaan harus berorientasi pada kebutuhan. Artinya jangan sampai struktur dibuat terlalu birokratis dan terlalu banyak jabatan yang kurang perlu.
·         Leadership/Culture. Budaya adalah ruang lingkup yang luas. Dalam hal ini perpustakaan harus mampu menumbuhkan nilai budaya membaca. Jadi, ini adalah salah satu tugas berat perpustakaan[6].
Intranet merupakan salah satu penerapan KM di dalam perpustakaan karena dapat membantu dan memudahkan dalam pengelolaan perpustakaan. Menurut Hendro Wicaksono (2006),[7]satu diantara komponen dalam penerapan knowledge management adalah ketersediaan alat (tool) sebagai salah satu sarana untuk berbagi (sharing) pengetahuan. Hal ini sebagaimana dilakukan industri dalam menerapkan knowledge management. Untuk itu bentuk realisasi knowledge management di perpustakaan dengan membangun beberapa sarana atau sharing pengetahuan, antara lain:
1.      Membuat portal/web perpustakaan sebagai wadah untuh sharing
2.      Membuat jaringan intranet sebagai infrastruktur
3.      Menyediakan fasilitas internet di perpustakaan
4.      Melakukan proses digitalisasi koleksi perpustakaan.
Intranet merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk sharing pengetahuan di perpustakaan. Konsep intranet muncul tidak lama setelah internet popular. Secara sederhana intranet dapat didefenisikan sebagai implementasi teknologi internet pada jaringan computer adalah LAN (local area network) yang cakupannya lokal. Banyak media yang bisa digunakan pada intranet dan paling populer web. Adapun tujuan dibangun intranet ini, antara lain:
1.      Sarana penyedia sumber daya informasi (information resource) secara elektronik dengan akses ke intranet.
2.      Mengoptimalkan penggunaan infrastruktur teknologi informasi yang telah dikembangkan.
3.      Menyediakan sumber daya informasi yang mudah diakses oleh sivitas akademika di lingkungan perguruan tinggi.
4.      Mengembangkan layanan perpustakaan dengan menyediakan lebih banyak pilihan format dokumen ilmiah bagi pengguna perpustakaan.
5.      Memenuhi tautan akan sumber belajar yang dapat mendukung pelaksanaan metode problem based learning yang memungkinkan mahasiswa mengakses sumber belajar tertentu tanpa harus datang ke perpustakaan, namun cukup mengakses dari ruang kuliah maupun ruang tutorial
Adapun kegiatan yang dilakukan untuk mempersiapkan inranet dalam rangka menyediakan sarana bantu penelusuran meliputi:
1.      Mendownload artikel jurnal dari database.
2.      Menscan buku-buku teks.
3.      Mengkonversi karya tulis ilmiah dalam format pdf.
4.      Mengedit dan update artikel jurnal cetak.
5.      Mengedit dan update catalog karya tulis ilmiah cetak.
6.      Membuat data back-up dalam CD dan hardisk.
7.      Merancang webseite terakses intranet.
8.      Upload data ke website intranet.
Inranet tersebut dapat diakses dari lingkungan universitas dalam jaringan local AreaNetwork (LAN) atau melalui akses poin dilingkungan Fakultas. Adapun resource yang dapat diperoleh dari intranet tersebut dapat berupa: 1. Catalog online (OPAC). 2. E-book. 3. Karya ilmiah elektronik. 4. Artikel elektronik. Intranet dapat digunakan sharing pengetahuan bagi sivitas akademika universitas guna mendapatkan kemudahan dalam memperoleh informasi
G. Kesimpulan
        Kemajuan ilmu pengetahuan yang didukung dengan perkembangan teknologi informasi mempercepat perputaran informasi. Perpustakaan sebagai lembaga pengelola dan penyedia informasi perlu mengadakan penyesuaian dalam menghadapi perubahan tersebut. Perubahan ini dilakukan sebagai cara untuk menjembatani antara perkembangan dan perputaran informasi yang berlangsung dengan cepat, dan tuntutan pemakai untuk mendapatkan informasi dengan cepat, tepat dan akurat. Sehingga memberikan manfaat bagi komunitas antara lain memberikan kesempatan kecepatan dalam pencarian informasi







Daftar Pustaka
Hendro Wicaksono. 2006. Membangun Sistem Management Pengetahuan untuk
Pemakai Perpustakaan Berbasis Intranet Menggunakan Perangkat Lunak Opensour diunduh dari www.ilmukomputer.com Tanggal 11 Januari 2015.
Jafar Basri. 2004. Sikap perubahan fundamental dalam menghadapi
Kedayagunaan Sistem Informasi berbasis Jejaringan. Diunduh dari http://www.pacific.net.id/pakar/jafar/sibj 4 htm tanggal 11 Januari 2015.
Kardi.2007.Revitilisasi Peran Pustakawan Dalam Implementasi Knowledge
Management.Artikel pada Majalah Visi Pustaka Volome 9 Nomer 2 Agustus 2007. Jakarta:Pusat J           asa Perpustakaan dan  Informasi, Perpusnas RI.
Laudon, Knnethh C. and Jane P. Laudon . 2002. Management information systems
Managing the digital firm 7th ed. New Jersey : Prentice-Hall
Malhotra, Yogesh (2000), "From Information Management to Knowledge
Management: Beyond the 'Hi-Tech Hidebound' Systems" dalam K. Srinantaiah dan MED Koenig (ed.), Knowledge Management for the Information Professional, Medford, NJ : Information Today Inc.
Shanhong, Tang, 2006. Knowledge Management in Libraries in the 21 st Century.
Sukirno, 2008. Fihris: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol. III Nomor 2
(Juli-desember 2008).




[1] Sukirno, Fihris: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol. III Nomor 2 (Juli-desember 2008) hal.88
[2] Sukirno, Fihris: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol. III Nomor 2 (Juli-desember 2008) hal.23
[3] Laudon, Kenneth C. and Jane P. Laudon  Management Information System: Managing the Digital Firm, 7th.( New Jersey : Prentice-Hall.2002)hal.372-373

[4] Sulistyo-Basuki.Pengantar Ilmu Perpustakaan. (Jakarta: Gramedia Pustaka.1993)
[5] Shanhong, Tang, 2006. Knowledge Management in Libraries in the 21 st Century. Diunduh dari
http://www.ifla.org/IV/ifla66/papers. Tanggal 11 Januari 2015

[6] Jafar Basri. 2004. Sikap perubahan fundamental dalam menghadapi Kedayagunaan Sistem Informasi berbasis Jejaringan. Diunduh dari http://www.pacific.net.id/pakar/jafar/sibj 4 htm tanggal11 Januari 2015
[7] Hendro Wicaksono. 2006. Membangun Sistem Management Pengetahuan untuk Pemakai Perpustakaan BerbasisIntranet Menggunakan Perangkat Lunak Opensour diunduh dari www.ilmukomputer.com Tanggal 11 Januari 2015.

Jumat, 11 Desember 2015

Perpustakaan Masa Depan




LEARNING COMMONS
Sebuah Konsep Pengembangan Perpustakaan Perguruan Tinggi  Dalam Menghadapi Generasi Digital
A.   Latar Belakang Masalah
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin meningkat turut
menghantarkan hadirnya teknologi internet yang tanpa disadari telah membawa manusia pada suatu kehidupan yang baru dan kebiasaan baru. Hadirnya teknologi internet yang memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memenuhi kebutuhan informasinya kemudian dianggap sebagai salah satu faktor penyebab masyarakat kurang menaruh minat terhadap perpustakaan. Teknologi internet yang dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk melakukan berbagai macam penyebaran dan penelusuran informasi turut merubah kebutuhan masyarakat terhadap perpustakaan dan perilaku dalam mencari informasi yang dibutuhkan[1].
Pada abad 21 ini membawa kita memasuki era digital, saat informasi dapat diakses tanpa ada batas ruang dan waktu, telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap perpustakaan. Pada masa ini eksistensi perpustakaan mulai dipertanyakan. Perubahan perilaku pencarian informasi dan perubahan kebutuhan terhadap perpustakaan membuat pustakawan dituntut untuk dapat terus mengikuti perkembangan terkini dalam mengelola perpustakaan. Generasi internet merupakan generasi yang tidak bisa lepas dari teknologi internet dan menyukai melakukan kegiatan dengan berkelompok di tempat yang nyaman serta didukung dengan teknologi yang tinggi.
Kondisi ini kemudian menimbulkan keresahan pada lingkungan perpustakaan. Jika internet terus mendominasi dan jika hampir semua informasi baik ilmiah maupun hiburan dapat diperoleh dengan mudah oleh masyarakat akademik bahkan dalam berbagai bentuk (file, teks, audio, video) kapanpun dan dimanapun lalu apakah keberadaan perpustakaan masih dibutuhkan? Seperti yang dikatakan oleh Stewart perkembangan teknologi informasi yang terus meningkat telah menyebabkan munculnya berbagai macam pertimbangan tentang keberadaan bangunan perpustakaan.[2].
Generasi digital atau net generation atau generasi Z adalah generasi yang lahir dan tumbuh dalam tingginya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sehingga sebagian besar kegiatannya tidak dapat lepas dari penggunaan computer dan internet.
Mengajak generasi digital untuk datang dan memanfaatkan perpustakaan bukanlah hal mudah, lingkungan yang dikelilingi oleh teknologi informasi dan komunikasi yang mampu menembus batas ruang dan waktu membuat generasi ini bisa mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan dalam waktu singkat dan cepat. Perpustakaan yang masih mempertahankan bentuk ruangnya sebagai tempat menyimpan bahan pustaka dengan menyediakan beberapa meja dan kursi baca tentu tidak akan mendapat perhatian dari generasi ini
Oleh karena itu paradigma yang ada di masyarakat suatu perpustakaan yang menyediakan informasi cetak harus di ubah ke paradigma perpustakaan yang juga menyediakan informasi digital terutama yang tidak tersedia dalam bentuk cetak. User oriented servise juga harus menjadi focus perubahan selain desain ruangan yang kontemporrer perlu juga dirubah agar perpustakaan tidak sebagai tempat penyimpanan buku saja.
Menjawab keresahan dan pertanyaan tersebut Donald Beagle menawarkan suatu ide untuk merubah konsep, bentuk, dan desain ruang perpustakaan menjadi sesuatu yang menarik untuk mewadahi dan memfasilitasi kebutuhan generasi digital terhadap ruang yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat melakukan berbagai macam kegiatan di dalam perpustakaan dengan di dukung oleh teknologi internet dan bukan hanya memberikan pemandangan tumpukan buku di rak. Konsep ini yang kemudian dikenal dengan nama  Learning Commons[3]. Keterlibatan semua pihak dalam hal ini berkaitan baik dari pemustaka, pustakawan dan dosen menjadi pertimbangan penting juga dalam pengembangan perpustakaan ini agar tepat sasaran dan efektif.
B.   Rumusan Masalah
Bagaimana penerapan dan aspek apa saja yang terkandung dalam konsep learning commons (memanfaatkan ruang kosong sebagai tempat belajar di perpustakaan)menghadapi generasi digital?  

C.   Kajian Teori
Net generation disebut juga sebagai Z generation atau generasi platinum atau the native gadget[4] Sedangkan menurut Wulandari melalui artikelnya yang berjudul “Layanan Perpustakaan PerguruannTinggi di Era Digital Native” mengatakan bahwa generasi digital memiliki kebiasaan dan karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelumnya khususnya dalam cara belajar dan melakukan penelusuran informasi sehingga membuat keberadaan perpustakaan sebagai sumber informasi tidak lagi mendominasi saat generasi ini membutuhkan informasi.[5]
Adapun Ciri ciri Net generation menurut Oblinger & Oblinger, 2005)[6]:
1.      Digital literate Setelah terbiasa dan tumbuh dengan akses yang luas terhadap teknologi net generation tumbuh sebagai generasi yang memiliki kemampuan digital yang baik. Mereka dengan mudah menggunakan berbagai teknologi digital dan visual dan lebih menyukai tampilan visual dibanding dengan teks (Oblinger & Oblinger, 2005). Mereka adalah pelajar visual dan melihat teks sebagai pendukung materi visual. Mereka ingin mengetahui halhal dengan sendirinya. Mereka memiliki kemampuan digital (digital literate) yang lebih baik dibandingkan dengan kemampuan mengunakan perpustakaan sebagai sumber informasi (library literate). Sehingga mereka lebih menyukai penggunaan sumbersumber online dibandingkan dengan sumber informasi tercetak.
2.      Selalu terhubung Net generation selalu terhubung dengan dunia luar melalui internet mobile yang mereka bawa kemana-mana. Melalui laptop, mobile phone mereka selalu terkoneksi dengan informasi dan komunitas dunia maya. Keterhubungan dengan dunia maya inilah yang menyebabkan mereka sangat tergantung dengan keberadaan internet.
3.      Segera Net generation selalu menginginkan kecepatan, apakah itu berhubungan dengan respon yang mereka harapkan maupun kecepatan dalam memperoleh informasi. Mereka terbiasa melakukan multitasking dalam memperoleh informasi ataupun dalam melakukan apapun, Mereka dengan cepat bergerak dari satu aktifitas ke aktifitas lainnya dan kadang mereka melakukannya secara bersamaan. Mereka dengan cepat membalas email ataupun permintaan respon dari komunitasnya, bahkan mungkin mereka lebih mengutamakan kecepatan dibandingkan dengan ketepatan.
4.      Experiential Kebanyakan siswa net generation lebih suka belajar dengan melakukan daripada dengan diberitahu apa yang harus mereka lakukan. Siswa net generation belajar dengan baik melalui penemuan-dengan mengeksplorasi untuk diri sendiri atau dengan teman sebaya mereka. Gaya eksplorasi mereka memungkinkan untuk lebih baik menyimpan informasi dan menggunakannya secara kreatif dan bermakna
5.      Sosial Net generation sangat tertarik dengan interaksi sosial, apakah itu chatting dengan temanteman lama, bekerja sama dalam sebuah game online, memposting buku harian web (blogging), berbagi informasi dan bersosialisasi melalui situs jejaring sosial semacam facebook, twitter dan lain-lain. Mereka terbuka terhadap keanekaragaman, perbedaan, dan mereka nyaman berinteraksi dengan orang asing yang tidak dikenal sekalipun. Dalam berinteraksi terkadang mereka mengaku anggota dari kelompok tersebut agar dapat diterima oleh kelompok tersebut, kadang mereka juga menggunakan identitas alternatif yang terkadang jauh berbeda dengan keseharian pribadi mereka. Net generation suka bekerja dalam tim dan berinteraksi dalam peer group mereka.
6.      Tim Net generation lebih menyukai belajar dan bekerja dalam tim. Pendekatan peer to peer umumnya digunakan dan siswa saling membantu. Bahkan terkadang mereka menemukan peer group yang lebih kredibel dibandingkan dengan gurunya
7.      Struktur Net generation sangat berorientasi pada prestasi. Mereka ingin parameter, aturan, prioritas, dan prosedur ... mereka berpikir bahwa semuanya harus serba terjadual, dan setiap orang harus memiliki agenda. Sebagai hasilnya, mereka ingin tahu apa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuannya
8.      Keterlibatan dan pengalaman
Net generation berorientasi pada penemuan dan cara belajar induktif atau pengamatan membuat, merumuskan hipotesis dan mencari tahu aturan. Mereka menginginkan interaktifitas. Dan sejalan dengan keinginan mereka dalam memperoleh informasi berarti mereka sering tidak memperhatikan jika kelas tidak interaktif, tidak komunikatif dan terlalu lambat
9.      Visual dan Kinesthetic Net generation merasa lebih nyaman di lingkungan yang kaya gambar dibandingkan dengan teks. Para peneliti banyak menghasilkan temuan bahwa net generation menolak untuk membaca banyak teks, mereka lebih menyukai petunjuk visual yang menuntuk kepada langkah demi langkah dalam memahami sebuah pengetahuan.
Learning commons dapat didefinisikan sebagai sebuah konsep untuk memanfaatkan ruang-ruang yang ada di dalam perpustakaan sebagai tempat belajar dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang mendukung kemajuan teknologi dan berada dalam satu lokasi yang dapat diakses secara bebas dan mandiri guna mendukung proses pembelajaran.[7]
Dalam hal ini Learning commons memberikan bentuk baru dari sebuah perpustakaan yang bukan hannya sekedar menyediakan raung dan materi belajar tetapi juga pembelajaran yang melibatkan semua pihak akademik. Hal yang terpenting dalam penerapan Learning commons adalah terciptanya suasana yang nyaman di perpustakaan dengan berorientasi pada kenyamanan pemustaka.
Perpustakaan perguruan tinggi adalah perpustakaan yang terdapat pada perguruan tinggi, badan bawahannya, maupun lembaga yang berafiliasi dengan perguruan tinggi, dengan tujuan utama membantu perguruan tinggi mencapai tujuannya yakni Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat)[8].
Satu amanat yang diberikan oleh undang-undang adalah perpustakaan merupakan bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu perpustakaan juga harus mampu memenuhi kebutuhan pendidikan bagi pemustakanya. Dua kalimat mencerdaskan kehidupan bangsa dan memenuhi kebutuhan pendidikan bagi pemustaka mengarahkan pada pengelola perpustakaan agar dapat menghadirkan sebuah layanan edukatif.
D. Pembahasan
            Konsep learning commons mengarah kepada bagaimana pustakawan mampu memiliki cara pandang yang baru dalam menghadapi generasi digital, dari yang semula sangat melindungi informasi dan sumber-sumber lain yang ada di perpustakaan menjadi lebih terbuka dan mampu mengarahkan pemustaka untuk melakukan akses informasi dan sumber-sumber yang ada di perpustakaan, dari yang semula tertutup dan membatasi diri dengan pemustaka menjadi terbuka dalam melakukan pelayanan dan mampu berinteraksi dengan pemustaka.
            Keberadaan learning commons saat ini sudah banyak dikembangkan oleh perpustakaan-perpustakaan, terutama perpustakaan akademik. Hal ini mengingat bahwa generasi pada era digital ini berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, sehingga perlu pendekatan yang berbeda. Learning commons sendiri lebih menekankan bagaimana menyediakan fasilitas ruang atau tempat bagi pemustaka (dan pelajar/mahasiswa) baik untuk belajar secara serius maupun belajar secara santai, atau bahkan sekedar melakukan eksplorasi ke dalam sumber-sumber yang diminati.
 Maka tak heran apabila dalam learning commons terdapat fasilitas yang merupakan kolaborasi dari perpustakaan, teknologi informasi dan komunikasi, serta lingkungan yang menyenangkan. Pustakawan sendiri dapat berperan sebagai bagian yang ikut mengembangkan learning commons agar informasi dan resources yang tersedia dapat mewakili kebutuhan semua generasi yang memanfaatkan perpustakaan dan juga learning commons.
Bahkan pustakawan dapat menjadi supervisor, asisten, maupun sekedar teman berdiskusi dan belajar bagi pemustaka, terutama terkait dengan sumber-sumber informasi yang mendukung proses belajar mereka. Keberadaan learning commons merupakan satu bentuk upaya peningkatan layanan perpustakaan dari segi penyediaan fasilitas yang dapat mendorong iklim pembelajaran dan pendidikan yang lebih baik. Karena dengan fasilitas yang memadai maka perpustakaan akan dapat benar-benar hadir sebagai solusi edukatif bagi para pemustakanya.
                Diana Chan dan Gabrielle Wong mengungkapkan beberapa factor yang mempengaruhi hadirnya konsep learning commons[9] :
1.      Pemustaka cenderung menolak untuk berkunjung ke perpustakaan.
Sivitas akademik merasa tidak perlu lagi berkunjung ke perpustakaan karena semua akses informasi dan koleksi digital (e-journals, e-book, e-resources) dapat diakses  secara langsung dimanapun dan kapanpun melalui perangkat elektronik/perangkat mobile phone.
2.      Rendahnya pandangan dari perpustakaan dan pustakawan tentang
hadirnya koleksi digital. Saat perpustakaan mulai mengembangkan koleksi digitalnya dengan membeli dan menyediakan sebanyak-banyaknya koleksi dalam
format digital nampaknya koleksi cetak kurang mendapatkan perhatian sehingga
yang tersedia hanyalah koleksi lama.
3.      Perubahan pola belajar pemustaka akademik di era digital.
Pemustaka saat ini masuk dalam generasi digital, kehidupan mereka sangat dekat dengan teknologi informasi dan komunikasi. Mereka pada umumnya belajar dengan mendengarkan musik, menikmati makanan kecil dan melakukan akses internet seperti  menjawab email, chat online, dan sesekali aktif di sosial media. Menanggapi pola belajar yang seperti ini perpustakaan perlu menyediakan ruangan yang fleksibel dan nyaman. Jika perpustakaan masih saja bertahan dengan konsep perpustakaan tradisional maka pemustaka juga akan enggan untuk berlama-lama berada di perpustakaan.
Melihat adanya faktor-faktor tersebut jelas bahwa perpustakaan perlu untuk melakukan pengembangan dan perubahan konsep pengelolaan perpustakaan menyampaikan fenomena yang terjadi pada perpustakaan akademik di Amerika Utara pada awal tahun 1990 yaitu munculnya bentuk baru ruang-ruang belajar di perpustakaan yang disebut sebagai learning commons[10].
          Aspek tentang upaya yang dapat dilakukan oleh perpustakaan untuk menerapkan konsep learning commons pada perpustakaan perguruan tinggi[11].
·        User-Centered Perpustakaan akan dikatakan sukses jika berorientasi kepada kebutuhan pemustaka dan bukan hanya fokus kepada pengadaan teknologi. Mengenali dan memahami apa yang dibutuhkan dan sering dimanfaatkan oleh pemustaka merupakan hal penting yang harus diketahui oleh perpustakaan. Salah satu yang bisa dilakukan oleh perpustakaan misalnya dengan memanfatkan salah satu sudut perpustakaan untuk menyediakan perlengkapan ATK seperti bolpoint, pensil, gunting, cutter, penggaris, dan kelengkapan lainnya yang bisa dimanfaatkan oleh pemustaka. Melalui cara sederhana ini perpustakaan akan dapat sedikit memahami dan memenuhi kebutuhan pemustaka saat berada di perpustakaan.
·        Fleksibel
Menciptakan perpustakaan yang fleksibel, tidak kaku, dan mudah beradaptasi.
Kebijakan dan aturan yang berlaku di perpustakaan diharapkan dapat disesuaikan
dengan perkembangan dan kondisi kebutuhan pemustaka.
Generasi digital adalah generasi yang tidak menyukai aturan yang kaku dan ketat. Generasi ini tidak akan merasa nyaman jika berada dalam ruangan yang memiliki banyak larangan, misa tidak boleh ramai, tidak boleh membawa makanan, tidak boleh memakai topi. Generasi ini membutuhkan penjelasan yang bisa dinalar untuk setiap larangan yang diberlakukan. Misalya “Anda akan terlihat lebih rapi jika tidak memakai jacket di dalam ruangan perpustakaan” akan lebih bisa diterima daripada hanya sekedar larangan “Dilarang Memakai Jacket”.
·        Information Desk
Menyediakan layanan help-desk atau layanan informasi yang dapat membantu pemustaka menemukan informasi yang dibutuhkan. Layanan ini sangat penting bagi perpustakaan guna memenuhi kebutuhan informasi pemustaka. Tidak semua pemustaka paham apa yang harus dilakukan di dalam perpustakaan untuk itu layanan information desk perlu untuk ditempatkan di satu ruangan khusus yang dapat menjadi one stop shopping of information bagi seluruh pemustaka. Layanan ini akan sangat bermanfaat jika ditempatkan pada posisi pintu masuk perpustakaan.
·        Keterbukaan
Menghilangkan penghalang antara pemustaka dan pustakawan, ciptakan keterbukaan antara pemustaka dan pustakawan untuk dapat menciptakan interaksi yang baik dan memberikan kenyamanan kepada pemustaka. Cobalah untuk menyapa atau setidaknya sedikit membuka pembicaraan dengan pemustaka. Cara ini diharapkan dapat menciptakan suasana terbuka antara pemustaka dan perpustakaan sehingga tidak terkesan kaku.
·        Asas Kepercayaan
Beri kepercayaan kepada pemustaka sehingga pemustaka juga akan mempercayai perpustakaan. Misalnya kepercayaan dalam melakukan akses informasi. Adanya
batasan dalam melakukan akses koleksi seperti koleksi karya ilmiah tentunya akan
membuat pemustaka merasa tidak dipercaya. Sampai saat ini masih ada pro dan kontra tentang hak akses karya ilmiah. Tidak akan ada salahnya jika perpustakaan mulai mencoba membuka akses karya ilmiah untuk dapat dimanfaatkan secara terbuka dan bebas oleh pemustaka. Belajar untuk mempercayai mereka bahwa informasi yang mereka dapatkan akan dapat digunakan dengan bertanggung jawab.
·        Publikasi
Gunakan setiap kesempatan untuk melakukan publikasi tentang perpustakaan
untuk lebih mendekatkan perpustakaan dengan pemustaka, misalnya dengan membuat buletin perpustakaan yang berisi informasi kegiatan perpustakaan,
koleksi baru, layanan dan fasilitas.
E. Kesimpulan
Kebutuhan pemustaka merupakan salah satu komponen penting yang harus diperhatikan oleh perpustakaan. Tanpa kehadiran pemustaka maka perpustakaan hanya akan menjadi sebuah ruang tanpa ada kehidupan. Untuk itu maka perpustakaan melakukan pengembangan,penelitian,dan inovasi dalam rangka rangka mengetahui dan memenuhi kebutuhan pemustaka di era digital ini. Perpustakaan dapat menerapkan dengan menyediakan area yang nyaman bagi pemustaka untuk melakukan berbagai macam kegiatan dan menciptaka suasana terbuka di perpustakaan sehinggan mereka merasa nyaman dan tidak tegang berada di dalam perpustakaan.

















DAFTAR PUSTAKA

Chan, D.L.H., Wong, G.K.W., 2013, “If You Build It, They Will Come: An IntraInstitutional
User  Engagement Process in the Learning Commons”, New Library World, Vol.114, Issue ½. Diakses 10 Desember 2014.
Donkai, S., Toshimori, A., Mizoue, C., 2011, “Academic Libraries as Learning Spaces in
Japan: Toward the Development of Learning Commons”, The International Information & Library Review, Desember, 43 (4). Diakses 10 Desember 2014.
Fourie, D.K & Dowell, D.R. 2002. Libraries in the Information Age: An Introduction and
Career Exploration. Colorado: Libraries Unlimited Greenwood Publishing Group, Inc.
Harland, P.C., 2011, The Learning Commons: Seven Simple Steps to Transform Your Library,
California: Libraries Unlimited.
Kumalawati, Deasy & Wahyuni, Indah Hermin.2013. Learning Commons Sebagai Upaya
Perpustakaan Perguruan Tinggi Menghadapi Perilaku Generasi Digita. Prosiding Prosiding Manajemen Perpustakaan Perguruan Tinggi untuk Net Gen: Tantangan dan Peluang. FPPTI Jawa Timur.
Oblinger, D.G. & Oblinger, J.L. (2005). Is Ii age or IT: First steps toward understanding the
netgeneration, in Educating the net generation . Diana G. Oblinger & James L. Oblinger (Eds.). S.l.: Educause. http://www.educause.edu/educatingthenetgen/
Stewart, C., 2009, The Academic Library Building in the Digital Age: A Study of New
Library Construction and Planning, Design, and Use of New Library Space, A Dessertation: Pennsylvania University.
Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Suprapto, Kahardityo. (March 14, 2010). Generasi platinum yang lekat dengan gadget.
Wulandari, D., 2013, Layanan Perpustakaan Perguruan Tinggi di Era Digital Native,
Konferensi Call for Paper & MUSDA II FPPTI Jawa Timur: Peranan Jejaring Perpustakaan dalam Meningkatkan Kompetensi Pustakawan, Ubaya Training Center, Trawas, Mojokerto.
WEB



[1] Fourie, D.K & Dowell, D.R. Libraries in the Information Age: An Introduction and Career Exploration. (Colorado: Libraries Unlimited Greenwood Publishing Group, Inc.2002)hal.1
[2] Stewart, C. The Academic Library Building in the Digital Age: A Study of New Library Construction and Planning, Design, and Use of New Library Space, (A Dessertation: Pennsylvania University.2009) hal.1
[3] Beagle, D. The Learning Commons in Historical Context. 2008
[4] Suprapto, Kahardityo. Generasi platinum yang lekat dengan gadget. Tribunnews. Retrieved April 1, 2011, from http://www.tribunnews.com/2010/03/14/generasi-platinum-yang-lekat-dengan-gadget.diakses 10 Des 2014
[5] Wulandari, D., Layanan Perpustakaan Perguruan Tinggi di Era Digital Native, Konferensi Call for Paper & MUSDA II FPPTI Jawa Timur: Peranan Jejaring Perpustakaan dalam Meningkatkan KompetensiPustakawan, Ubaya  Training Center, Trawas, Mojokerto.2003.hal.34
[6] Oblinger, D.G. & Oblinger, J.L. (2005). Is Ii age or IT: First steps toward understanding the netgeneration, in Educating the net generation . Diana G. Oblinger & James L. Oblinger (Eds.). S.l.: Educause. http://www.educause.edu/educatingthenetgen/
[7] Donkai, S., Toshimori, A., Mizoue, C “Academic Libraries as Learning Spaces in Japan: Toward the Development of Learning Commons”, The International Information & Library Review.2011. hal. 215
[8] Sulistyo-Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.1991) hal.51.
[9] Chan, D.L.H., Wong, G.K.W., “If You Build It, They Will Come: An IntraInstitutional User Engagement Process in the Learning Commons”, 2003. New Library World, Vol.114, Issue 1/2, pp.44-53
[10] Donkai,S.,Toshimori,A.,Mizoue,C.”Academic Libraries as Learning Spaces in Japan: Toward the Development of lerning commons”.The International Information and Library Review. Diakses 10 Desember 2014.
[11] Harland, P.C.The Learning Commons: Seven Simple Steps to Transform Your Library, (California: Libraries Unlimited.2011) hal.40