KEPUSTAKAWANAN INDONESIA DILIHAT DARI SOSOK TOKOH PUSTAKAWAN INDONESIA YANG BERNAMA BLASIUS SUDARSONO.
Balasius Sudarsono Lahir
di
kota
Solo Jawa
Tengah Pada
tanggal
02 Febuari
1948.
Beliau
mengeyam
pendidikan
di
UGM jurusan
FIPA jurusan
fisika,lulus
pada
tahun
1973 dengan
gelar
Sarjana
Muda
BSc Pada
tahun
1979 dia
berkesempatan
melanjutkan
pendidikan
di
University of Hawai,Honolulu,USA
mendapat
gelat
Master of Library Studies (MLS).
Seorang tokoh putkawan yang eksentrik dengan
gaya nyeleneh ya ia sering disebut dengan Pak Dar atau Blasius Sudarsonoi.
Beliau adalah seorang pustakawan yang sudah professional dan sudah menghasilkan
banyak karya di bidang perpustakaan. Menurut beliau besok yang akan datang
kepustakawanan Indonesia akan mengalami pola perubahan damn pemikiran.
Pada bagian ini dikutip pokok-pokok pikiran Driyarkara
yang dipakai nantinya dalam mencari makna kepustakawanan. Driyarkara membedakan
antara filsafat sebagai ilmu (yang tidak dibahas dalam tulisan ini), dan filsafat
dalam arti yang lebih luas yaitu dalam arti: usaha mencari jawab atas
berbagai pertanyaan hidup, menanyakan dan mempersoalkan segala sesuatu. Dikatakan
pula bahwa filsafat adalah pernyataan/penjelmaan
dari sesuatu yang hidup di dalam hati setiap orang. Maka walaupun tidak setiap orang dapat menjadi ahli filsafat, namun
yang dibicarakan atau dipersoalkan dalam filsafat itu memang berarti bagi kita
semua. Pustakawan adalah orang (manusia). Maka jika kita memakai kalimat
Driyarkara dengan mengganti kata orang dengan kata pustakawan dan sedikit
memodifikasikannya, maka akan diperloleh kalimat berikut:
Filsafat kepustakawanan adalah pernyataan/penjelmaan dari sesuatu yang
hidup di dalam hati setiap pustakawan. Maka walaupun tidak setiap pustakawan
dapat menjadi ahli filsafat, namun yang dibicarakan atau dipersoalkan dalam
filsafat kepustakawanan itu memang
berarti bagi semua pustakawan.
Perlu juga kiranya disampaikan pandangan Diryarkara tentang pentingnya
pelajaran filsafat. Dikatakannya bahwa filsafat tidak melulu yang teoritis saja, namun akhirnya juga bermuara pada
kehendak dan perbuatan yang praktis. Ditekankannya mengapa orang ingin
mengerti, karena ingin mengerti untuk
berbuat. Sehingga pengertian dan pengetahuan itu dipakai orang dalam
menjalani hidupnya. Selanjutnya disebutkan beda antara orang yang berfilsafat
dan yang tidak, itu terletak dalam sikap
mereka terhadap hidup manusia. Dengan demikian pustakawan sudah seharusnyalah
juga mencari jawab atas segala pertanyaan hidupnya terutama dalam menjalani
profesinya. Dengan kata lain pustakawan memerlukan filsafat kepustakawanan agar
mempunyai sikap (ideal) terhadap
hidup kepustakawanannya.
Selanjutnya menurut Driyarkara, pelajaran filsafat adalah cara mendidik, membangun diri kita sendiri
karena: 1) dengan berfilsafat kita lebih
menjadi manusia 2) kebiasaan melihat dan menganalisis persoalan membuat kita
lebih cerdas dan tangkas untuk melihat dan memecahkan persoalan dalam hidup
keseharin kita 3) pelajaran filsafat mengajar dan melatih kita memandang dengan
lebih luas, dan 4) dengan pelajaran
filsafat kita diharapkan menjadi orang yang dapat berpikir sendiri.
Dikatakannya pula jika dipandang menurut isinya:
- Filsafat memberi dasar pengetahuan kita, memberikan pandangan yang sintetis pula hingga seluruh pengetahuan kita merupakan kesatuan
- Hidup kita dipimpin oleh pengetahuan kita. Sebab itu mengetahui kebenaran berarti mengetahui dasar hidup sendiri. Dalam etika hal ini tampak nyata.
- Khususnya bagi seorang pendidik, filsafat mempunyai kepentingan istimewa karena filsafat memberi dasar dari ilmu-ilmu lainnya mengenai manusia, misalnya ilmu mendidik, sosiologi, ilmu jiwa, dan lain sebagainya.
Pustakawan
adalah mahkluk hidup yang disebut sebagai manusia. Driyarkara menyebut manusia
yang tidak hanya ”apa” melainkan juga ”siapa” itu sebagai ”pribadi”. Dengan
demikian ”pustakawan” adalah pribadi.
Menarik melihat ”pustakawan” dan ”pribadi” ini dari sudut tata bahasa. Jika dua
kata itu diturunkan dengan tambahan ke-an,
maka ”pustakawan” akan menjadi ”kepustakawanan”, sedang ”pribadi” akan menjadi
”kepribadian”. Padahal ”pustakawan” adalah juga ”pribadi”, sehingga dapat
diharapkan ada kesetaraan konsep ”pustakawan dan kepustakawanan” dengan konsep
”pribadi dan kepribadian”. Logikanya pemikiran Driyarkara tentang ”pribadi dan
kepribadian” berlaku juga untuk konsep ”pustakawan dan kepustakawanan”
Pokok pikiran Driyarkara tentang pribadi dan kepribadian
adalah:
- Pribadi manusia supaya betul-betul menjadi Pribadi harus menjadi Kepribadian.
- Pribadi yang tidak menjadi kepribadian itu merupakan pribadi yang terjerumus, Pribadi yang tidak setia terhadap Tuhan, terhadap masyarakat dan dirinya sendiri, Pribadi yang kehilangan keluhuran dan kehormatannya.
- Kepribadian adalah perkembangan dari Pribadi. Perkembangan yang betul-betul menjalankan kedaulatan dan kekuasaannya atas dirinya sendiri dan tidak dijajah oleh kenafsuan-kenafsuan, dan dunia material.
- Jika ini tercapai maka Pribadi betul-betul ”bersemayam” dalam dirinya sendiri.
Analogi dengan sedikit modifikasi berikut tentunya dapat
dipakai sebagai permenungan dengan
mengganti kata pribadi dengan pustakawan dan kata kepribadian dengan kata
kepustakawanan.
- Pustakawan supaya betul-betul menjadi Pustakawan harus menjadi dan memiliki Kepustakawanan.
- Pustakawan yang tidak menjadi kepustakawanan itu merupakan pustakawan yang terjerumus, Pustakawan yang tidak setia terhadap Tuhan, terhadap masyarakat dan dirinya sendiri, Pustakawan yang kehilangan keluhuran dan kehormatannya.
- Kepustakawanan adalah perkembangan dari Pustakawan.. Perkembangan yang betul-betul menjalankan kedaulatan dan kekuasaannya atas dirinya sendiri dan tidak dijajah oleh kenafsuan-kenafsuan, dan dunia material.
- Jika ini tercapai maka Pustakawani betul-betul ”bersemayam” dalam dirinya sendiri.
Sejak dasawarsa 1990an Blasius Sudarsono mempunyai paham
bahwa kepustakawanan menganut
Ø Empat Pilar Penyangga
1. Kepustakwanan adalah Panggilan Hidup
2. Kepustakwanan adalah semangat hidup
3. Kepustakwanan adalah karya pelayanan
4. Kepustakwanan adalah profesional
Ø Lima Daya Utama
1. Berfikir kritis, analitis, dan
kritis
2. Berkemampuan membaca
3. Berkemampuan menulis
4. Berkemampuan wirausaha
5. Menjunjung tinggi etika
Blasius
juga mempunyai suatu organisasi yang bernama KAPPA SIGMA KAPPA INDONESIA (2012)
- Profesi pustakawan akan diakui sejajar dengan profesi lain jika dan hanya jika Ilmu Perpustakaan dan Informasi (IP&I) juga diakui sejajar dengan ilmu lain.
- Oleh karena itu studi dan pengembangan IP&I serta penerapannya adalah keniscayaan
- Dibentuk oleh dan bagi pribadi yang sadar akan tangung jawab untuk ikut melakukan upaya pembelajaran berkesinambungan guna mengembangkan kepustakawanan Indonesia.
- Dimaksudkan sebagai komunitas pemelihara semangat belajar berkesinambungan dan penumbuh rasa bangga setiap anggota atas IP & I, sehingga dapat menghasilkan pemikiran mendalam maupun konsep pengembangan kepustakawanan Indonesia.
- Bersaudara untuk menumbuhkembangkan kepustakawann Indonesia.Sebagai uji coba atas eksistensi perpustakaan pertanyaan berikut perlu dijawab: ”Apakah perpustakaan juga dicari jika tidak ada (tutup)? Atau: ”Apakah pustakawan juga dicari saat tidak hadir?” Jelas tidak akan dicari apabila perpustakaan atau pustakawan tidak memberi rasa pada masyarakat lingkungan-nya. Sebagai garam jika sudah hilang rasa asinnya tentu tidak berguna dan akan dibuang.Garam yang kehilangan rasa asin mengibaratkan juga pustakawan yang kehilangan kepustakawanannya. Kepustakawanan (rasa asin) awal itulah yang harus dihasilkan semua sekolah pustakawan kita. Pertanyaan kepada sekolah pustakawan: ”Apakah mau mengahasilkan calon pustakawan yang memiliki roh kepustakawanan?”Tulisan inipun bukan memberi kesimpulan, karena memang upaya untuk mengajak belajar berfilsafat. Pemikiran filsafat tidak ada akhirnya selama kehidupan manusia (pustakawan) masih ada.Daftar PustakaDriyakarya.2006. Karya lengkap Driyarkara : Esai-esai filsafat pemikir yang terlibat penuhdalam perjuangan bangsanya. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.Hasan Alwi, Soenjono Darmowidjojo, Hans Lapoliwa, dan Anton M Moeliono. 2003. Tatabahasa baku Bahasa Indonesia Edisi ketiga, cetakan keenam. Jakarta : Pusat Bahasa dan Balai Pustaka.Sudarsono-Blasius, 2006. Antologi Kepustakawanan Indonesia. Jakarta: IPI.WEBSemoga bermanfaat
Salah satu Maestro Kepustakawanan di Indonesia. banyak tulisan beliau yang menjadi inspirasi pengembangan perpustakaan kita
BalasHapusMasih banyak pemikiran-pemikirannya (nyeleneh tapi baik) yang belum sempat beliau tulis, ayo pustakawan ikuti jejak beliau ...
BalasHapusSepertinya saya termasuk "pustakawan panggilan hidup" deh ✌
BalasHapusjooosss pak blaasiuss.. sukses terus yaaa..:)
BalasHapusmakasish komennya
BalasHapus