LEARNING COMMONS
Sebuah
Konsep Pengembangan Perpustakaan Perguruan Tinggi Dalam Menghadapi Generasi Digital
A.
Latar Belakang Masalah
Perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi yang semakin meningkat turut
menghantarkan hadirnya teknologi internet yang tanpa disadari telah membawa manusia pada suatu kehidupan yang baru dan kebiasaan baru. Hadirnya teknologi internet yang memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memenuhi kebutuhan informasinya kemudian dianggap sebagai salah satu faktor penyebab masyarakat kurang menaruh minat terhadap perpustakaan. Teknologi internet yang dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk melakukan berbagai macam penyebaran dan penelusuran informasi turut merubah kebutuhan masyarakat terhadap perpustakaan dan perilaku dalam mencari informasi yang dibutuhkan[1].
menghantarkan hadirnya teknologi internet yang tanpa disadari telah membawa manusia pada suatu kehidupan yang baru dan kebiasaan baru. Hadirnya teknologi internet yang memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memenuhi kebutuhan informasinya kemudian dianggap sebagai salah satu faktor penyebab masyarakat kurang menaruh minat terhadap perpustakaan. Teknologi internet yang dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk melakukan berbagai macam penyebaran dan penelusuran informasi turut merubah kebutuhan masyarakat terhadap perpustakaan dan perilaku dalam mencari informasi yang dibutuhkan[1].
Pada abad 21 ini membawa kita memasuki
era digital, saat informasi dapat diakses tanpa ada batas ruang dan waktu,
telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap perpustakaan. Pada masa ini
eksistensi perpustakaan mulai dipertanyakan. Perubahan perilaku pencarian
informasi dan perubahan kebutuhan terhadap perpustakaan membuat pustakawan
dituntut untuk dapat terus mengikuti perkembangan terkini dalam mengelola
perpustakaan. Generasi internet merupakan generasi yang tidak bisa lepas dari
teknologi internet dan menyukai melakukan kegiatan dengan berkelompok di tempat
yang nyaman serta didukung dengan teknologi yang tinggi.
Kondisi ini kemudian menimbulkan
keresahan pada lingkungan perpustakaan. Jika internet terus mendominasi dan
jika hampir semua informasi baik ilmiah maupun hiburan dapat diperoleh dengan
mudah oleh masyarakat akademik bahkan dalam berbagai bentuk (file, teks, audio,
video) kapanpun dan dimanapun lalu apakah keberadaan perpustakaan masih
dibutuhkan?
Seperti yang
dikatakan oleh Stewart perkembangan teknologi informasi yang terus meningkat
telah menyebabkan munculnya berbagai macam pertimbangan tentang keberadaan
bangunan perpustakaan.[2].
Generasi
digital atau net generation atau generasi Z adalah generasi yang lahir
dan tumbuh dalam tingginya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi
sehingga sebagian besar kegiatannya tidak dapat lepas dari penggunaan computer
dan internet.
Mengajak
generasi digital untuk datang dan memanfaatkan perpustakaan bukanlah hal mudah,
lingkungan yang dikelilingi oleh teknologi informasi dan komunikasi yang mampu
menembus batas ruang dan waktu membuat generasi ini bisa mendapatkan semua
informasi yang dibutuhkan dalam waktu singkat dan cepat. Perpustakaan yang
masih mempertahankan bentuk ruangnya sebagai tempat menyimpan bahan pustaka
dengan menyediakan beberapa meja dan kursi baca tentu tidak akan mendapat
perhatian dari generasi ini
Oleh karena itu paradigma yang ada di
masyarakat suatu perpustakaan yang menyediakan informasi cetak harus di ubah ke
paradigma perpustakaan yang juga menyediakan informasi digital terutama yang
tidak tersedia dalam bentuk cetak. User oriented servise juga harus menjadi
focus perubahan selain desain ruangan yang kontemporrer perlu juga dirubah agar
perpustakaan tidak sebagai tempat penyimpanan buku saja.
Menjawab keresahan dan pertanyaan
tersebut Donald Beagle menawarkan suatu ide untuk merubah konsep, bentuk, dan
desain ruang perpustakaan menjadi sesuatu yang menarik untuk mewadahi dan
memfasilitasi kebutuhan generasi digital terhadap ruang yang dapat dimanfaatkan
sebagai tempat melakukan berbagai macam kegiatan di dalam perpustakaan dengan
di dukung oleh teknologi internet dan bukan hanya memberikan pemandangan
tumpukan buku di rak. Konsep ini yang kemudian dikenal dengan nama Learning
Commons[3]. Keterlibatan semua pihak dalam hal ini
berkaitan baik dari pemustaka, pustakawan dan dosen menjadi pertimbangan
penting juga dalam pengembangan perpustakaan ini agar tepat sasaran dan
efektif.
B.
Rumusan Masalah
Bagaimana penerapan dan aspek apa saja
yang terkandung dalam konsep learning
commons (memanfaatkan ruang kosong sebagai tempat belajar di perpustakaan)menghadapi
generasi digital?
C.
Kajian Teori
Net
generation disebut juga sebagai Z generation atau
generasi platinum atau the native gadget[4]
Sedangkan menurut Wulandari melalui artikelnya yang berjudul “Layanan
Perpustakaan PerguruannTinggi di Era Digital Native” mengatakan bahwa
generasi digital memiliki kebiasaan dan karakteristik yang berbeda dengan
generasi sebelumnya khususnya dalam cara belajar dan melakukan penelusuran
informasi sehingga membuat keberadaan perpustakaan sebagai sumber informasi
tidak lagi mendominasi saat generasi ini membutuhkan informasi.[5]
Adapun
Ciri ciri Net generation menurut Oblinger
& Oblinger, 2005)[6]:
1. Digital literate Setelah terbiasa dan
tumbuh dengan akses yang luas terhadap teknologi net generation tumbuh
sebagai generasi yang memiliki kemampuan digital yang baik. Mereka dengan mudah
menggunakan berbagai teknologi digital dan visual dan lebih menyukai tampilan
visual dibanding dengan teks (Oblinger & Oblinger, 2005). Mereka adalah
pelajar visual dan melihat teks sebagai pendukung materi visual. Mereka ingin
mengetahui halhal dengan sendirinya. Mereka memiliki kemampuan digital (digital
literate) yang lebih baik dibandingkan dengan kemampuan mengunakan
perpustakaan sebagai sumber informasi (library literate). Sehingga
mereka lebih menyukai penggunaan sumbersumber online dibandingkan dengan sumber
informasi tercetak.
2. Selalu terhubung Net generation
selalu terhubung dengan dunia luar melalui internet mobile yang mereka bawa
kemana-mana. Melalui laptop, mobile phone mereka selalu terkoneksi
dengan informasi dan komunitas dunia maya. Keterhubungan dengan dunia maya
inilah yang menyebabkan mereka sangat tergantung dengan keberadaan internet.
3. Segera
Net generation selalu menginginkan kecepatan, apakah itu berhubungan
dengan respon yang mereka harapkan maupun kecepatan dalam memperoleh informasi.
Mereka terbiasa melakukan multitasking dalam memperoleh informasi
ataupun dalam melakukan apapun, Mereka dengan cepat bergerak dari satu
aktifitas ke aktifitas lainnya dan kadang mereka melakukannya secara bersamaan.
Mereka dengan cepat membalas email ataupun permintaan respon dari komunitasnya,
bahkan mungkin mereka lebih mengutamakan kecepatan dibandingkan dengan
ketepatan.
4. Experiential Kebanyakan siswa net
generation lebih suka belajar dengan melakukan daripada dengan diberitahu
apa yang harus mereka lakukan. Siswa net generation belajar dengan baik
melalui penemuan-dengan mengeksplorasi untuk diri sendiri atau dengan teman
sebaya mereka. Gaya eksplorasi mereka memungkinkan untuk lebih baik menyimpan
informasi dan menggunakannya secara kreatif dan bermakna
5. Sosial Net generation sangat tertarik
dengan interaksi sosial, apakah itu chatting dengan temanteman lama,
bekerja sama dalam sebuah game online, memposting buku harian web (blogging),
berbagi informasi dan bersosialisasi melalui situs jejaring sosial semacam
facebook, twitter dan lain-lain. Mereka terbuka terhadap keanekaragaman,
perbedaan, dan mereka nyaman berinteraksi dengan orang asing yang tidak dikenal
sekalipun. Dalam berinteraksi terkadang mereka mengaku anggota dari kelompok
tersebut agar dapat diterima oleh kelompok tersebut, kadang mereka juga
menggunakan identitas alternatif yang terkadang jauh berbeda dengan keseharian
pribadi mereka. Net generation suka bekerja dalam tim dan berinteraksi
dalam peer group mereka.
6. Tim
Net generation lebih menyukai belajar dan bekerja dalam tim. Pendekatan peer
to peer umumnya digunakan dan siswa saling membantu. Bahkan terkadang
mereka menemukan peer group yang lebih kredibel dibandingkan dengan gurunya
7. Struktur
Net generation sangat berorientasi pada prestasi. Mereka ingin
parameter, aturan, prioritas, dan prosedur ... mereka berpikir bahwa semuanya
harus serba terjadual, dan setiap orang harus memiliki agenda. Sebagai hasilnya,
mereka ingin tahu apa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuannya
8. Keterlibatan dan
pengalaman
Net generation berorientasi pada
penemuan dan cara belajar induktif atau pengamatan membuat, merumuskan
hipotesis dan mencari tahu aturan. Mereka menginginkan interaktifitas. Dan
sejalan dengan keinginan mereka dalam memperoleh informasi berarti mereka
sering tidak memperhatikan jika kelas tidak interaktif, tidak komunikatif dan
terlalu lambat
9. Visual dan
Kinesthetic Net generation merasa lebih nyaman di lingkungan yang kaya gambar
dibandingkan dengan teks. Para peneliti banyak menghasilkan temuan bahwa net
generation menolak untuk membaca banyak teks, mereka lebih menyukai
petunjuk visual yang menuntuk kepada langkah demi langkah dalam memahami sebuah
pengetahuan.
Learning commons dapat didefinisikan sebagai sebuah
konsep untuk memanfaatkan ruang-ruang yang ada di dalam perpustakaan sebagai
tempat belajar dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang mendukung kemajuan
teknologi dan berada dalam satu lokasi yang dapat diakses secara bebas dan mandiri
guna mendukung proses pembelajaran.[7]
Dalam hal ini Learning commons memberikan bentuk baru dari sebuah perpustakaan
yang bukan hannya sekedar menyediakan raung dan materi belajar tetapi juga
pembelajaran yang melibatkan semua pihak akademik. Hal yang terpenting dalam
penerapan Learning commons adalah
terciptanya suasana yang nyaman di perpustakaan dengan berorientasi pada
kenyamanan pemustaka.
Perpustakaan
perguruan tinggi adalah perpustakaan yang terdapat pada perguruan tinggi, badan
bawahannya, maupun lembaga yang berafiliasi dengan perguruan tinggi, dengan
tujuan utama membantu perguruan tinggi mencapai tujuannya yakni Tri Dharma
Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat)[8].
Satu
amanat yang diberikan oleh undang-undang adalah perpustakaan merupakan bagian
dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu perpustakaan juga harus
mampu memenuhi kebutuhan pendidikan bagi pemustakanya. Dua kalimat mencerdaskan
kehidupan bangsa dan memenuhi kebutuhan pendidikan bagi pemustaka mengarahkan
pada pengelola perpustakaan agar dapat menghadirkan sebuah layanan edukatif.
D.
Pembahasan
Konsep
learning commons mengarah kepada bagaimana pustakawan mampu memiliki
cara pandang yang baru dalam menghadapi generasi digital, dari yang semula
sangat melindungi informasi dan sumber-sumber lain yang ada di perpustakaan
menjadi lebih terbuka dan mampu mengarahkan pemustaka untuk melakukan akses
informasi dan sumber-sumber yang ada di perpustakaan, dari yang semula tertutup
dan membatasi diri dengan pemustaka menjadi terbuka dalam melakukan pelayanan
dan mampu berinteraksi dengan pemustaka.
Keberadaan learning commons saat ini
sudah banyak dikembangkan oleh perpustakaan-perpustakaan, terutama perpustakaan
akademik. Hal ini mengingat bahwa generasi pada era digital ini berbeda dengan
generasi-generasi sebelumnya, sehingga perlu pendekatan yang berbeda. Learning
commons sendiri lebih
menekankan bagaimana menyediakan fasilitas ruang atau tempat bagi pemustaka
(dan pelajar/mahasiswa) baik untuk belajar secara serius maupun belajar secara
santai, atau bahkan sekedar melakukan eksplorasi ke dalam sumber-sumber yang
diminati.
Maka tak heran apabila dalam learning commons
terdapat fasilitas yang merupakan kolaborasi dari perpustakaan, teknologi
informasi dan komunikasi, serta lingkungan yang menyenangkan. Pustakawan
sendiri dapat berperan sebagai bagian yang ikut mengembangkan learning commons
agar informasi dan resources yang tersedia dapat mewakili kebutuhan semua generasi
yang memanfaatkan perpustakaan dan juga learning commons.
Bahkan
pustakawan dapat menjadi supervisor, asisten, maupun sekedar teman berdiskusi
dan belajar bagi pemustaka, terutama terkait dengan sumber-sumber informasi
yang mendukung proses belajar mereka. Keberadaan learning commons merupakan
satu bentuk upaya peningkatan layanan perpustakaan dari segi penyediaan
fasilitas yang dapat mendorong iklim pembelajaran dan pendidikan yang lebih
baik. Karena dengan fasilitas yang memadai maka perpustakaan akan dapat
benar-benar hadir sebagai solusi edukatif bagi para pemustakanya.
Diana Chan
dan Gabrielle Wong mengungkapkan beberapa factor yang mempengaruhi hadirnya
konsep learning commons[9] :
1.
Pemustaka cenderung menolak untuk
berkunjung ke perpustakaan.
Sivitas akademik merasa tidak perlu lagi berkunjung ke perpustakaan karena semua akses informasi dan koleksi digital (e-journals, e-book, e-resources) dapat diakses secara langsung dimanapun dan kapanpun melalui perangkat elektronik/perangkat mobile phone.
Sivitas akademik merasa tidak perlu lagi berkunjung ke perpustakaan karena semua akses informasi dan koleksi digital (e-journals, e-book, e-resources) dapat diakses secara langsung dimanapun dan kapanpun melalui perangkat elektronik/perangkat mobile phone.
2.
Rendahnya pandangan dari perpustakaan
dan pustakawan tentang
hadirnya koleksi digital. Saat perpustakaan mulai mengembangkan koleksi digitalnya dengan membeli dan menyediakan sebanyak-banyaknya koleksi dalam
format digital nampaknya koleksi cetak kurang mendapatkan perhatian sehingga
yang tersedia hanyalah koleksi lama.
hadirnya koleksi digital. Saat perpustakaan mulai mengembangkan koleksi digitalnya dengan membeli dan menyediakan sebanyak-banyaknya koleksi dalam
format digital nampaknya koleksi cetak kurang mendapatkan perhatian sehingga
yang tersedia hanyalah koleksi lama.
3.
Perubahan
pola belajar pemustaka akademik di era digital.
Pemustaka saat ini masuk dalam generasi digital,
kehidupan mereka sangat dekat dengan teknologi informasi dan komunikasi. Mereka
pada umumnya belajar dengan
mendengarkan musik, menikmati makanan kecil dan melakukan akses
internet seperti menjawab email, chat
online, dan sesekali aktif di sosial media. Menanggapi pola belajar yang
seperti ini perpustakaan perlu menyediakan ruangan yang fleksibel dan nyaman.
Jika perpustakaan masih saja bertahan dengan konsep perpustakaan tradisional
maka pemustaka juga akan enggan untuk berlama-lama berada di perpustakaan.
Melihat adanya faktor-faktor tersebut
jelas bahwa perpustakaan perlu untuk melakukan pengembangan dan perubahan konsep
pengelolaan perpustakaan menyampaikan fenomena yang terjadi pada perpustakaan
akademik di Amerika Utara pada awal tahun 1990 yaitu munculnya bentuk baru
ruang-ruang belajar di perpustakaan yang disebut sebagai learning commons[10].
Aspek tentang
upaya yang dapat dilakukan oleh perpustakaan untuk menerapkan konsep learning
commons pada perpustakaan perguruan tinggi[11].
·
User-Centered
Perpustakaan
akan dikatakan sukses jika berorientasi kepada kebutuhan pemustaka dan bukan
hanya fokus kepada pengadaan teknologi. Mengenali dan memahami apa yang
dibutuhkan dan sering dimanfaatkan oleh pemustaka merupakan hal penting yang
harus diketahui oleh perpustakaan. Salah satu yang bisa dilakukan oleh
perpustakaan misalnya dengan memanfatkan salah satu sudut perpustakaan untuk
menyediakan perlengkapan ATK seperti bolpoint, pensil, gunting, cutter, penggaris,
dan kelengkapan lainnya yang bisa dimanfaatkan oleh pemustaka. Melalui cara
sederhana ini perpustakaan akan dapat sedikit memahami dan memenuhi kebutuhan
pemustaka saat berada di perpustakaan.
·
Fleksibel
Menciptakan perpustakaan yang fleksibel, tidak kaku, dan mudah beradaptasi.
Kebijakan dan aturan yang berlaku di perpustakaan diharapkan dapat disesuaikan
dengan perkembangan dan kondisi kebutuhan pemustaka. Generasi digital adalah generasi yang tidak menyukai aturan yang kaku dan ketat. Generasi ini tidak akan merasa nyaman jika berada dalam ruangan yang memiliki banyak larangan, misa tidak boleh ramai, tidak boleh membawa makanan, tidak boleh memakai topi. Generasi ini membutuhkan penjelasan yang bisa dinalar untuk setiap larangan yang diberlakukan. Misalya “Anda akan terlihat lebih rapi jika tidak memakai jacket di dalam ruangan perpustakaan” akan lebih bisa diterima daripada hanya sekedar larangan “Dilarang Memakai Jacket”.
Menciptakan perpustakaan yang fleksibel, tidak kaku, dan mudah beradaptasi.
Kebijakan dan aturan yang berlaku di perpustakaan diharapkan dapat disesuaikan
dengan perkembangan dan kondisi kebutuhan pemustaka. Generasi digital adalah generasi yang tidak menyukai aturan yang kaku dan ketat. Generasi ini tidak akan merasa nyaman jika berada dalam ruangan yang memiliki banyak larangan, misa tidak boleh ramai, tidak boleh membawa makanan, tidak boleh memakai topi. Generasi ini membutuhkan penjelasan yang bisa dinalar untuk setiap larangan yang diberlakukan. Misalya “Anda akan terlihat lebih rapi jika tidak memakai jacket di dalam ruangan perpustakaan” akan lebih bisa diterima daripada hanya sekedar larangan “Dilarang Memakai Jacket”.
·
Information Desk
Menyediakan layanan help-desk atau layanan
informasi yang dapat membantu pemustaka menemukan informasi yang dibutuhkan.
Layanan ini sangat penting bagi perpustakaan guna memenuhi kebutuhan informasi
pemustaka. Tidak semua pemustaka paham apa yang harus dilakukan di dalam
perpustakaan untuk itu layanan information desk perlu untuk ditempatkan
di satu ruangan khusus yang dapat menjadi one stop shopping of information bagi
seluruh pemustaka. Layanan ini akan sangat bermanfaat jika ditempatkan pada
posisi pintu masuk perpustakaan.
·
Keterbukaan
Menghilangkan penghalang antara pemustaka dan pustakawan, ciptakan keterbukaan antara pemustaka dan pustakawan untuk dapat menciptakan interaksi yang baik dan memberikan kenyamanan kepada pemustaka. Cobalah untuk menyapa atau setidaknya sedikit membuka pembicaraan dengan pemustaka. Cara ini diharapkan dapat menciptakan suasana terbuka antara pemustaka dan perpustakaan sehingga tidak terkesan kaku.
Menghilangkan penghalang antara pemustaka dan pustakawan, ciptakan keterbukaan antara pemustaka dan pustakawan untuk dapat menciptakan interaksi yang baik dan memberikan kenyamanan kepada pemustaka. Cobalah untuk menyapa atau setidaknya sedikit membuka pembicaraan dengan pemustaka. Cara ini diharapkan dapat menciptakan suasana terbuka antara pemustaka dan perpustakaan sehingga tidak terkesan kaku.
·
Asas Kepercayaan
Beri kepercayaan kepada pemustaka sehingga
pemustaka juga akan mempercayai perpustakaan. Misalnya kepercayaan dalam
melakukan akses informasi. Adanya
batasan dalam melakukan akses koleksi seperti koleksi karya ilmiah tentunya akan
membuat pemustaka merasa tidak dipercaya. Sampai saat ini masih ada pro dan kontra tentang hak akses karya ilmiah. Tidak akan ada salahnya jika perpustakaan mulai mencoba membuka akses karya ilmiah untuk dapat dimanfaatkan secara terbuka dan bebas oleh pemustaka. Belajar untuk mempercayai mereka bahwa informasi yang mereka dapatkan akan dapat digunakan dengan bertanggung jawab.
batasan dalam melakukan akses koleksi seperti koleksi karya ilmiah tentunya akan
membuat pemustaka merasa tidak dipercaya. Sampai saat ini masih ada pro dan kontra tentang hak akses karya ilmiah. Tidak akan ada salahnya jika perpustakaan mulai mencoba membuka akses karya ilmiah untuk dapat dimanfaatkan secara terbuka dan bebas oleh pemustaka. Belajar untuk mempercayai mereka bahwa informasi yang mereka dapatkan akan dapat digunakan dengan bertanggung jawab.
·
Publikasi
Gunakan setiap kesempatan untuk melakukan publikasi tentang perpustakaan
untuk lebih mendekatkan perpustakaan dengan pemustaka, misalnya dengan membuat buletin perpustakaan yang berisi informasi kegiatan perpustakaan,
koleksi baru, layanan dan fasilitas.
Gunakan setiap kesempatan untuk melakukan publikasi tentang perpustakaan
untuk lebih mendekatkan perpustakaan dengan pemustaka, misalnya dengan membuat buletin perpustakaan yang berisi informasi kegiatan perpustakaan,
koleksi baru, layanan dan fasilitas.
E. Kesimpulan
Kebutuhan pemustaka merupakan salah satu
komponen penting yang harus diperhatikan oleh perpustakaan. Tanpa kehadiran
pemustaka maka perpustakaan hanya akan menjadi sebuah ruang tanpa ada kehidupan.
Untuk itu maka perpustakaan melakukan pengembangan,penelitian,dan inovasi dalam
rangka rangka mengetahui dan memenuhi kebutuhan pemustaka di era digital ini.
Perpustakaan dapat menerapkan dengan menyediakan area yang nyaman bagi
pemustaka untuk melakukan berbagai macam kegiatan dan menciptaka suasana
terbuka di perpustakaan sehinggan mereka merasa nyaman dan tidak tegang berada di
dalam perpustakaan.
DAFTAR PUSTAKA
Chan, D.L.H., Wong, G.K.W., 2013, “If You Build
It, They Will Come: An IntraInstitutional
User
Engagement Process in the Learning Commons”, New
Library World, Vol.114, Issue ½. Diakses 10 Desember 2014.
Donkai, S., Toshimori, A., Mizoue, C., 2011, “Academic
Libraries as Learning Spaces in
Japan: Toward the Development of
Learning Commons”, The International Information &
Library Review, Desember, 43 (4). Diakses 10 Desember 2014.
Fourie, D.K & Dowell, D.R. 2002. Libraries
in the Information Age: An Introduction and
Career Exploration. Colorado:
Libraries Unlimited Greenwood Publishing Group, Inc.
Harland, P.C., 2011, The Learning Commons: Seven
Simple Steps to Transform Your Library,
California: Libraries Unlimited.
Kumalawati, Deasy & Wahyuni, Indah Hermin.2013. Learning Commons Sebagai Upaya
Perpustakaan
Perguruan Tinggi Menghadapi Perilaku Generasi Digita.
Prosiding Prosiding
Manajemen Perpustakaan Perguruan Tinggi untuk Net Gen: Tantangan dan Peluang.
FPPTI Jawa Timur.
Oblinger, D.G. & Oblinger, J.L. (2005). Is
Ii age or IT: First steps toward understanding the
netgeneration,
in Educating the net generation . Diana G. Oblinger & James L.
Oblinger (Eds.). S.l.: Educause. http://www.educause.edu/educatingthenetgen/
Stewart, C., 2009, The Academic Library Building in
the Digital Age: A Study of New
Library Construction and Planning,
Design, and Use of New Library Space, A Dessertation: Pennsylvania University.
Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu
Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Suprapto,
Kahardityo. (March 14, 2010). Generasi platinum yang lekat dengan gadget.
Tribunnews.http://www.tribunnews.com/2010/03/14/generasi-platinum-yang-lekat-dengan-gadget di akses 10 Desember 2014
Wulandari, D., 2013, Layanan Perpustakaan Perguruan
Tinggi di Era Digital Native,
Konferensi Call for Paper &
MUSDA II FPPTI Jawa Timur: Peranan Jejaring Perpustakaan dalam Meningkatkan
Kompetensi Pustakawan, Ubaya Training Center, Trawas, Mojokerto.
WEB
https://www.academia.edu/7858409/Upaya_Perpustakaan_dalam_Mewujudkan_Layanan_Edukatif. Diakses 31 JAnuari 2015.
[1] Fourie, D.K & Dowell, D.R. Libraries
in the Information Age: An Introduction and Career Exploration. (Colorado:
Libraries Unlimited Greenwood Publishing Group, Inc.2002)hal.1
[2] Stewart, C. The Academic
Library Building in the Digital Age: A Study of New Library Construction and
Planning, Design, and Use of New Library Space, (A Dessertation:
Pennsylvania University.2009) hal.1
[3] Beagle, D. The Learning
Commons in Historical Context. 2008
[4] Suprapto, Kahardityo. Generasi platinum
yang lekat dengan gadget. Tribunnews. Retrieved April 1, 2011, from http://www.tribunnews.com/2010/03/14/generasi-platinum-yang-lekat-dengan-gadget.diakses 10 Des 2014
[5] Wulandari, D., Layanan Perpustakaan
Perguruan Tinggi di Era Digital Native, Konferensi Call for
Paper & MUSDA II FPPTI Jawa Timur: Peranan Jejaring Perpustakaan dalam
Meningkatkan KompetensiPustakawan, Ubaya
Training Center, Trawas, Mojokerto.2003.hal.34
[6] Oblinger, D.G. & Oblinger, J.L.
(2005). Is Ii age or IT: First steps toward understanding the netgeneration,
in Educating the net generation . Diana G. Oblinger & James L. Oblinger
(Eds.). S.l.: Educause. http://www.educause.edu/educatingthenetgen/
[7] Donkai, S., Toshimori, A., Mizoue, C “Academic
Libraries as Learning Spaces in Japan: Toward the Development of
Learning Commons”, The International Information & Library Review.2011.
hal. 215
[8] Sulistyo-Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan. (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.1991) hal.51.
[9] Chan, D.L.H., Wong, G.K.W., “If You
Build It, They Will Come: An IntraInstitutional User Engagement Process in the
Learning Commons”, 2003. New Library World, Vol.114, Issue 1/2, pp.44-53
[10] Donkai,S.,Toshimori,A.,Mizoue,C.”Academic Libraries as Learning
Spaces in Japan: Toward the Development of lerning commons”.The International
Information and Library Review. Diakses 10 Desember 2014.
[11] Harland, P.C.The Learning Commons:
Seven Simple Steps to Transform Your Library, (California: Libraries
Unlimited.2011) hal.40
Tidak ada komentar:
Posting Komentar