Jumat, 11 Desember 2015

Perpustakaan Masa Depan




LEARNING COMMONS
Sebuah Konsep Pengembangan Perpustakaan Perguruan Tinggi  Dalam Menghadapi Generasi Digital
A.   Latar Belakang Masalah
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin meningkat turut
menghantarkan hadirnya teknologi internet yang tanpa disadari telah membawa manusia pada suatu kehidupan yang baru dan kebiasaan baru. Hadirnya teknologi internet yang memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memenuhi kebutuhan informasinya kemudian dianggap sebagai salah satu faktor penyebab masyarakat kurang menaruh minat terhadap perpustakaan. Teknologi internet yang dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk melakukan berbagai macam penyebaran dan penelusuran informasi turut merubah kebutuhan masyarakat terhadap perpustakaan dan perilaku dalam mencari informasi yang dibutuhkan[1].
Pada abad 21 ini membawa kita memasuki era digital, saat informasi dapat diakses tanpa ada batas ruang dan waktu, telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap perpustakaan. Pada masa ini eksistensi perpustakaan mulai dipertanyakan. Perubahan perilaku pencarian informasi dan perubahan kebutuhan terhadap perpustakaan membuat pustakawan dituntut untuk dapat terus mengikuti perkembangan terkini dalam mengelola perpustakaan. Generasi internet merupakan generasi yang tidak bisa lepas dari teknologi internet dan menyukai melakukan kegiatan dengan berkelompok di tempat yang nyaman serta didukung dengan teknologi yang tinggi.
Kondisi ini kemudian menimbulkan keresahan pada lingkungan perpustakaan. Jika internet terus mendominasi dan jika hampir semua informasi baik ilmiah maupun hiburan dapat diperoleh dengan mudah oleh masyarakat akademik bahkan dalam berbagai bentuk (file, teks, audio, video) kapanpun dan dimanapun lalu apakah keberadaan perpustakaan masih dibutuhkan? Seperti yang dikatakan oleh Stewart perkembangan teknologi informasi yang terus meningkat telah menyebabkan munculnya berbagai macam pertimbangan tentang keberadaan bangunan perpustakaan.[2].
Generasi digital atau net generation atau generasi Z adalah generasi yang lahir dan tumbuh dalam tingginya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sehingga sebagian besar kegiatannya tidak dapat lepas dari penggunaan computer dan internet.
Mengajak generasi digital untuk datang dan memanfaatkan perpustakaan bukanlah hal mudah, lingkungan yang dikelilingi oleh teknologi informasi dan komunikasi yang mampu menembus batas ruang dan waktu membuat generasi ini bisa mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan dalam waktu singkat dan cepat. Perpustakaan yang masih mempertahankan bentuk ruangnya sebagai tempat menyimpan bahan pustaka dengan menyediakan beberapa meja dan kursi baca tentu tidak akan mendapat perhatian dari generasi ini
Oleh karena itu paradigma yang ada di masyarakat suatu perpustakaan yang menyediakan informasi cetak harus di ubah ke paradigma perpustakaan yang juga menyediakan informasi digital terutama yang tidak tersedia dalam bentuk cetak. User oriented servise juga harus menjadi focus perubahan selain desain ruangan yang kontemporrer perlu juga dirubah agar perpustakaan tidak sebagai tempat penyimpanan buku saja.
Menjawab keresahan dan pertanyaan tersebut Donald Beagle menawarkan suatu ide untuk merubah konsep, bentuk, dan desain ruang perpustakaan menjadi sesuatu yang menarik untuk mewadahi dan memfasilitasi kebutuhan generasi digital terhadap ruang yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat melakukan berbagai macam kegiatan di dalam perpustakaan dengan di dukung oleh teknologi internet dan bukan hanya memberikan pemandangan tumpukan buku di rak. Konsep ini yang kemudian dikenal dengan nama  Learning Commons[3]. Keterlibatan semua pihak dalam hal ini berkaitan baik dari pemustaka, pustakawan dan dosen menjadi pertimbangan penting juga dalam pengembangan perpustakaan ini agar tepat sasaran dan efektif.
B.   Rumusan Masalah
Bagaimana penerapan dan aspek apa saja yang terkandung dalam konsep learning commons (memanfaatkan ruang kosong sebagai tempat belajar di perpustakaan)menghadapi generasi digital?  

C.   Kajian Teori
Net generation disebut juga sebagai Z generation atau generasi platinum atau the native gadget[4] Sedangkan menurut Wulandari melalui artikelnya yang berjudul “Layanan Perpustakaan PerguruannTinggi di Era Digital Native” mengatakan bahwa generasi digital memiliki kebiasaan dan karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelumnya khususnya dalam cara belajar dan melakukan penelusuran informasi sehingga membuat keberadaan perpustakaan sebagai sumber informasi tidak lagi mendominasi saat generasi ini membutuhkan informasi.[5]
Adapun Ciri ciri Net generation menurut Oblinger & Oblinger, 2005)[6]:
1.      Digital literate Setelah terbiasa dan tumbuh dengan akses yang luas terhadap teknologi net generation tumbuh sebagai generasi yang memiliki kemampuan digital yang baik. Mereka dengan mudah menggunakan berbagai teknologi digital dan visual dan lebih menyukai tampilan visual dibanding dengan teks (Oblinger & Oblinger, 2005). Mereka adalah pelajar visual dan melihat teks sebagai pendukung materi visual. Mereka ingin mengetahui halhal dengan sendirinya. Mereka memiliki kemampuan digital (digital literate) yang lebih baik dibandingkan dengan kemampuan mengunakan perpustakaan sebagai sumber informasi (library literate). Sehingga mereka lebih menyukai penggunaan sumbersumber online dibandingkan dengan sumber informasi tercetak.
2.      Selalu terhubung Net generation selalu terhubung dengan dunia luar melalui internet mobile yang mereka bawa kemana-mana. Melalui laptop, mobile phone mereka selalu terkoneksi dengan informasi dan komunitas dunia maya. Keterhubungan dengan dunia maya inilah yang menyebabkan mereka sangat tergantung dengan keberadaan internet.
3.      Segera Net generation selalu menginginkan kecepatan, apakah itu berhubungan dengan respon yang mereka harapkan maupun kecepatan dalam memperoleh informasi. Mereka terbiasa melakukan multitasking dalam memperoleh informasi ataupun dalam melakukan apapun, Mereka dengan cepat bergerak dari satu aktifitas ke aktifitas lainnya dan kadang mereka melakukannya secara bersamaan. Mereka dengan cepat membalas email ataupun permintaan respon dari komunitasnya, bahkan mungkin mereka lebih mengutamakan kecepatan dibandingkan dengan ketepatan.
4.      Experiential Kebanyakan siswa net generation lebih suka belajar dengan melakukan daripada dengan diberitahu apa yang harus mereka lakukan. Siswa net generation belajar dengan baik melalui penemuan-dengan mengeksplorasi untuk diri sendiri atau dengan teman sebaya mereka. Gaya eksplorasi mereka memungkinkan untuk lebih baik menyimpan informasi dan menggunakannya secara kreatif dan bermakna
5.      Sosial Net generation sangat tertarik dengan interaksi sosial, apakah itu chatting dengan temanteman lama, bekerja sama dalam sebuah game online, memposting buku harian web (blogging), berbagi informasi dan bersosialisasi melalui situs jejaring sosial semacam facebook, twitter dan lain-lain. Mereka terbuka terhadap keanekaragaman, perbedaan, dan mereka nyaman berinteraksi dengan orang asing yang tidak dikenal sekalipun. Dalam berinteraksi terkadang mereka mengaku anggota dari kelompok tersebut agar dapat diterima oleh kelompok tersebut, kadang mereka juga menggunakan identitas alternatif yang terkadang jauh berbeda dengan keseharian pribadi mereka. Net generation suka bekerja dalam tim dan berinteraksi dalam peer group mereka.
6.      Tim Net generation lebih menyukai belajar dan bekerja dalam tim. Pendekatan peer to peer umumnya digunakan dan siswa saling membantu. Bahkan terkadang mereka menemukan peer group yang lebih kredibel dibandingkan dengan gurunya
7.      Struktur Net generation sangat berorientasi pada prestasi. Mereka ingin parameter, aturan, prioritas, dan prosedur ... mereka berpikir bahwa semuanya harus serba terjadual, dan setiap orang harus memiliki agenda. Sebagai hasilnya, mereka ingin tahu apa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuannya
8.      Keterlibatan dan pengalaman
Net generation berorientasi pada penemuan dan cara belajar induktif atau pengamatan membuat, merumuskan hipotesis dan mencari tahu aturan. Mereka menginginkan interaktifitas. Dan sejalan dengan keinginan mereka dalam memperoleh informasi berarti mereka sering tidak memperhatikan jika kelas tidak interaktif, tidak komunikatif dan terlalu lambat
9.      Visual dan Kinesthetic Net generation merasa lebih nyaman di lingkungan yang kaya gambar dibandingkan dengan teks. Para peneliti banyak menghasilkan temuan bahwa net generation menolak untuk membaca banyak teks, mereka lebih menyukai petunjuk visual yang menuntuk kepada langkah demi langkah dalam memahami sebuah pengetahuan.
Learning commons dapat didefinisikan sebagai sebuah konsep untuk memanfaatkan ruang-ruang yang ada di dalam perpustakaan sebagai tempat belajar dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang mendukung kemajuan teknologi dan berada dalam satu lokasi yang dapat diakses secara bebas dan mandiri guna mendukung proses pembelajaran.[7]
Dalam hal ini Learning commons memberikan bentuk baru dari sebuah perpustakaan yang bukan hannya sekedar menyediakan raung dan materi belajar tetapi juga pembelajaran yang melibatkan semua pihak akademik. Hal yang terpenting dalam penerapan Learning commons adalah terciptanya suasana yang nyaman di perpustakaan dengan berorientasi pada kenyamanan pemustaka.
Perpustakaan perguruan tinggi adalah perpustakaan yang terdapat pada perguruan tinggi, badan bawahannya, maupun lembaga yang berafiliasi dengan perguruan tinggi, dengan tujuan utama membantu perguruan tinggi mencapai tujuannya yakni Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat)[8].
Satu amanat yang diberikan oleh undang-undang adalah perpustakaan merupakan bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu perpustakaan juga harus mampu memenuhi kebutuhan pendidikan bagi pemustakanya. Dua kalimat mencerdaskan kehidupan bangsa dan memenuhi kebutuhan pendidikan bagi pemustaka mengarahkan pada pengelola perpustakaan agar dapat menghadirkan sebuah layanan edukatif.
D. Pembahasan
            Konsep learning commons mengarah kepada bagaimana pustakawan mampu memiliki cara pandang yang baru dalam menghadapi generasi digital, dari yang semula sangat melindungi informasi dan sumber-sumber lain yang ada di perpustakaan menjadi lebih terbuka dan mampu mengarahkan pemustaka untuk melakukan akses informasi dan sumber-sumber yang ada di perpustakaan, dari yang semula tertutup dan membatasi diri dengan pemustaka menjadi terbuka dalam melakukan pelayanan dan mampu berinteraksi dengan pemustaka.
            Keberadaan learning commons saat ini sudah banyak dikembangkan oleh perpustakaan-perpustakaan, terutama perpustakaan akademik. Hal ini mengingat bahwa generasi pada era digital ini berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, sehingga perlu pendekatan yang berbeda. Learning commons sendiri lebih menekankan bagaimana menyediakan fasilitas ruang atau tempat bagi pemustaka (dan pelajar/mahasiswa) baik untuk belajar secara serius maupun belajar secara santai, atau bahkan sekedar melakukan eksplorasi ke dalam sumber-sumber yang diminati.
 Maka tak heran apabila dalam learning commons terdapat fasilitas yang merupakan kolaborasi dari perpustakaan, teknologi informasi dan komunikasi, serta lingkungan yang menyenangkan. Pustakawan sendiri dapat berperan sebagai bagian yang ikut mengembangkan learning commons agar informasi dan resources yang tersedia dapat mewakili kebutuhan semua generasi yang memanfaatkan perpustakaan dan juga learning commons.
Bahkan pustakawan dapat menjadi supervisor, asisten, maupun sekedar teman berdiskusi dan belajar bagi pemustaka, terutama terkait dengan sumber-sumber informasi yang mendukung proses belajar mereka. Keberadaan learning commons merupakan satu bentuk upaya peningkatan layanan perpustakaan dari segi penyediaan fasilitas yang dapat mendorong iklim pembelajaran dan pendidikan yang lebih baik. Karena dengan fasilitas yang memadai maka perpustakaan akan dapat benar-benar hadir sebagai solusi edukatif bagi para pemustakanya.
                Diana Chan dan Gabrielle Wong mengungkapkan beberapa factor yang mempengaruhi hadirnya konsep learning commons[9] :
1.      Pemustaka cenderung menolak untuk berkunjung ke perpustakaan.
Sivitas akademik merasa tidak perlu lagi berkunjung ke perpustakaan karena semua akses informasi dan koleksi digital (e-journals, e-book, e-resources) dapat diakses  secara langsung dimanapun dan kapanpun melalui perangkat elektronik/perangkat mobile phone.
2.      Rendahnya pandangan dari perpustakaan dan pustakawan tentang
hadirnya koleksi digital. Saat perpustakaan mulai mengembangkan koleksi digitalnya dengan membeli dan menyediakan sebanyak-banyaknya koleksi dalam
format digital nampaknya koleksi cetak kurang mendapatkan perhatian sehingga
yang tersedia hanyalah koleksi lama.
3.      Perubahan pola belajar pemustaka akademik di era digital.
Pemustaka saat ini masuk dalam generasi digital, kehidupan mereka sangat dekat dengan teknologi informasi dan komunikasi. Mereka pada umumnya belajar dengan mendengarkan musik, menikmati makanan kecil dan melakukan akses internet seperti  menjawab email, chat online, dan sesekali aktif di sosial media. Menanggapi pola belajar yang seperti ini perpustakaan perlu menyediakan ruangan yang fleksibel dan nyaman. Jika perpustakaan masih saja bertahan dengan konsep perpustakaan tradisional maka pemustaka juga akan enggan untuk berlama-lama berada di perpustakaan.
Melihat adanya faktor-faktor tersebut jelas bahwa perpustakaan perlu untuk melakukan pengembangan dan perubahan konsep pengelolaan perpustakaan menyampaikan fenomena yang terjadi pada perpustakaan akademik di Amerika Utara pada awal tahun 1990 yaitu munculnya bentuk baru ruang-ruang belajar di perpustakaan yang disebut sebagai learning commons[10].
          Aspek tentang upaya yang dapat dilakukan oleh perpustakaan untuk menerapkan konsep learning commons pada perpustakaan perguruan tinggi[11].
·        User-Centered Perpustakaan akan dikatakan sukses jika berorientasi kepada kebutuhan pemustaka dan bukan hanya fokus kepada pengadaan teknologi. Mengenali dan memahami apa yang dibutuhkan dan sering dimanfaatkan oleh pemustaka merupakan hal penting yang harus diketahui oleh perpustakaan. Salah satu yang bisa dilakukan oleh perpustakaan misalnya dengan memanfatkan salah satu sudut perpustakaan untuk menyediakan perlengkapan ATK seperti bolpoint, pensil, gunting, cutter, penggaris, dan kelengkapan lainnya yang bisa dimanfaatkan oleh pemustaka. Melalui cara sederhana ini perpustakaan akan dapat sedikit memahami dan memenuhi kebutuhan pemustaka saat berada di perpustakaan.
·        Fleksibel
Menciptakan perpustakaan yang fleksibel, tidak kaku, dan mudah beradaptasi.
Kebijakan dan aturan yang berlaku di perpustakaan diharapkan dapat disesuaikan
dengan perkembangan dan kondisi kebutuhan pemustaka.
Generasi digital adalah generasi yang tidak menyukai aturan yang kaku dan ketat. Generasi ini tidak akan merasa nyaman jika berada dalam ruangan yang memiliki banyak larangan, misa tidak boleh ramai, tidak boleh membawa makanan, tidak boleh memakai topi. Generasi ini membutuhkan penjelasan yang bisa dinalar untuk setiap larangan yang diberlakukan. Misalya “Anda akan terlihat lebih rapi jika tidak memakai jacket di dalam ruangan perpustakaan” akan lebih bisa diterima daripada hanya sekedar larangan “Dilarang Memakai Jacket”.
·        Information Desk
Menyediakan layanan help-desk atau layanan informasi yang dapat membantu pemustaka menemukan informasi yang dibutuhkan. Layanan ini sangat penting bagi perpustakaan guna memenuhi kebutuhan informasi pemustaka. Tidak semua pemustaka paham apa yang harus dilakukan di dalam perpustakaan untuk itu layanan information desk perlu untuk ditempatkan di satu ruangan khusus yang dapat menjadi one stop shopping of information bagi seluruh pemustaka. Layanan ini akan sangat bermanfaat jika ditempatkan pada posisi pintu masuk perpustakaan.
·        Keterbukaan
Menghilangkan penghalang antara pemustaka dan pustakawan, ciptakan keterbukaan antara pemustaka dan pustakawan untuk dapat menciptakan interaksi yang baik dan memberikan kenyamanan kepada pemustaka. Cobalah untuk menyapa atau setidaknya sedikit membuka pembicaraan dengan pemustaka. Cara ini diharapkan dapat menciptakan suasana terbuka antara pemustaka dan perpustakaan sehingga tidak terkesan kaku.
·        Asas Kepercayaan
Beri kepercayaan kepada pemustaka sehingga pemustaka juga akan mempercayai perpustakaan. Misalnya kepercayaan dalam melakukan akses informasi. Adanya
batasan dalam melakukan akses koleksi seperti koleksi karya ilmiah tentunya akan
membuat pemustaka merasa tidak dipercaya. Sampai saat ini masih ada pro dan kontra tentang hak akses karya ilmiah. Tidak akan ada salahnya jika perpustakaan mulai mencoba membuka akses karya ilmiah untuk dapat dimanfaatkan secara terbuka dan bebas oleh pemustaka. Belajar untuk mempercayai mereka bahwa informasi yang mereka dapatkan akan dapat digunakan dengan bertanggung jawab.
·        Publikasi
Gunakan setiap kesempatan untuk melakukan publikasi tentang perpustakaan
untuk lebih mendekatkan perpustakaan dengan pemustaka, misalnya dengan membuat buletin perpustakaan yang berisi informasi kegiatan perpustakaan,
koleksi baru, layanan dan fasilitas.
E. Kesimpulan
Kebutuhan pemustaka merupakan salah satu komponen penting yang harus diperhatikan oleh perpustakaan. Tanpa kehadiran pemustaka maka perpustakaan hanya akan menjadi sebuah ruang tanpa ada kehidupan. Untuk itu maka perpustakaan melakukan pengembangan,penelitian,dan inovasi dalam rangka rangka mengetahui dan memenuhi kebutuhan pemustaka di era digital ini. Perpustakaan dapat menerapkan dengan menyediakan area yang nyaman bagi pemustaka untuk melakukan berbagai macam kegiatan dan menciptaka suasana terbuka di perpustakaan sehinggan mereka merasa nyaman dan tidak tegang berada di dalam perpustakaan.

















DAFTAR PUSTAKA

Chan, D.L.H., Wong, G.K.W., 2013, “If You Build It, They Will Come: An IntraInstitutional
User  Engagement Process in the Learning Commons”, New Library World, Vol.114, Issue ½. Diakses 10 Desember 2014.
Donkai, S., Toshimori, A., Mizoue, C., 2011, “Academic Libraries as Learning Spaces in
Japan: Toward the Development of Learning Commons”, The International Information & Library Review, Desember, 43 (4). Diakses 10 Desember 2014.
Fourie, D.K & Dowell, D.R. 2002. Libraries in the Information Age: An Introduction and
Career Exploration. Colorado: Libraries Unlimited Greenwood Publishing Group, Inc.
Harland, P.C., 2011, The Learning Commons: Seven Simple Steps to Transform Your Library,
California: Libraries Unlimited.
Kumalawati, Deasy & Wahyuni, Indah Hermin.2013. Learning Commons Sebagai Upaya
Perpustakaan Perguruan Tinggi Menghadapi Perilaku Generasi Digita. Prosiding Prosiding Manajemen Perpustakaan Perguruan Tinggi untuk Net Gen: Tantangan dan Peluang. FPPTI Jawa Timur.
Oblinger, D.G. & Oblinger, J.L. (2005). Is Ii age or IT: First steps toward understanding the
netgeneration, in Educating the net generation . Diana G. Oblinger & James L. Oblinger (Eds.). S.l.: Educause. http://www.educause.edu/educatingthenetgen/
Stewart, C., 2009, The Academic Library Building in the Digital Age: A Study of New
Library Construction and Planning, Design, and Use of New Library Space, A Dessertation: Pennsylvania University.
Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Suprapto, Kahardityo. (March 14, 2010). Generasi platinum yang lekat dengan gadget.
Wulandari, D., 2013, Layanan Perpustakaan Perguruan Tinggi di Era Digital Native,
Konferensi Call for Paper & MUSDA II FPPTI Jawa Timur: Peranan Jejaring Perpustakaan dalam Meningkatkan Kompetensi Pustakawan, Ubaya Training Center, Trawas, Mojokerto.
WEB



[1] Fourie, D.K & Dowell, D.R. Libraries in the Information Age: An Introduction and Career Exploration. (Colorado: Libraries Unlimited Greenwood Publishing Group, Inc.2002)hal.1
[2] Stewart, C. The Academic Library Building in the Digital Age: A Study of New Library Construction and Planning, Design, and Use of New Library Space, (A Dessertation: Pennsylvania University.2009) hal.1
[3] Beagle, D. The Learning Commons in Historical Context. 2008
[4] Suprapto, Kahardityo. Generasi platinum yang lekat dengan gadget. Tribunnews. Retrieved April 1, 2011, from http://www.tribunnews.com/2010/03/14/generasi-platinum-yang-lekat-dengan-gadget.diakses 10 Des 2014
[5] Wulandari, D., Layanan Perpustakaan Perguruan Tinggi di Era Digital Native, Konferensi Call for Paper & MUSDA II FPPTI Jawa Timur: Peranan Jejaring Perpustakaan dalam Meningkatkan KompetensiPustakawan, Ubaya  Training Center, Trawas, Mojokerto.2003.hal.34
[6] Oblinger, D.G. & Oblinger, J.L. (2005). Is Ii age or IT: First steps toward understanding the netgeneration, in Educating the net generation . Diana G. Oblinger & James L. Oblinger (Eds.). S.l.: Educause. http://www.educause.edu/educatingthenetgen/
[7] Donkai, S., Toshimori, A., Mizoue, C “Academic Libraries as Learning Spaces in Japan: Toward the Development of Learning Commons”, The International Information & Library Review.2011. hal. 215
[8] Sulistyo-Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.1991) hal.51.
[9] Chan, D.L.H., Wong, G.K.W., “If You Build It, They Will Come: An IntraInstitutional User Engagement Process in the Learning Commons”, 2003. New Library World, Vol.114, Issue 1/2, pp.44-53
[10] Donkai,S.,Toshimori,A.,Mizoue,C.”Academic Libraries as Learning Spaces in Japan: Toward the Development of lerning commons”.The International Information and Library Review. Diakses 10 Desember 2014.
[11] Harland, P.C.The Learning Commons: Seven Simple Steps to Transform Your Library, (California: Libraries Unlimited.2011) hal.40

Tidak ada komentar:

Posting Komentar