Selasa, 01 Desember 2015

Tokoh Pustakawan

KEPUSTAKAWANAN INDONESIA DILIHAT DARI SOSOK TOKOH PUSTAKAWAN INDONESIA YANG BERNAMA BLASIUS SUDARSONO.
 https://ayujannahjati.files.wordpress.com/2014/01/bs.jpg
Balasius Sudarsono Lahir di kota Solo Jawa Tengah Pada tanggal 02 Febuari 1948.

Beliau mengeyam pendidikan di UGM jurusan FIPA jurusan fisika,lulus pada tahun 1973 dengan gelar Sarjana Muda BSc Pada tahun 1979 dia berkesempatan melanjutkan pendidikan di University of Hawai,Honolulu,USA mendapat gelat Master of Library Studies (MLS).
 
Seorang tokoh putkawan yang eksentrik dengan gaya nyeleneh ya ia sering disebut dengan Pak Dar atau Blasius Sudarsonoi. Beliau adalah seorang pustakawan yang sudah professional dan sudah menghasilkan banyak karya di bidang perpustakaan. Menurut beliau besok yang akan datang kepustakawanan Indonesia akan mengalami pola perubahan damn pemikiran.
Pada bagian ini dikutip pokok-pokok pikiran Driyarkara yang dipakai nantinya dalam mencari makna kepustakawanan. Driyarkara membedakan antara filsafat sebagai ilmu (yang tidak dibahas dalam tulisan ini), dan filsafat dalam arti yang lebih luas yaitu dalam arti: usaha mencari  jawab atas berbagai pertanyaan hidup, menanyakan dan memperso­al­­kan segala sesuatu. Dikatakan pula bahwa filsafat adalah pernyata­an/penjelmaan dari sesuatu yang hidup di dalam hati setiap orang. Maka walaupun tidak setiap orang dapat menjadi ahli filsafat, namun yang dibicarakan atau dipersoalkan dalam filsafat itu memang berarti bagi kita semua. Pustakawan adalah orang (manusia). Maka jika kita memakai kalimat Driyarkara dengan mengganti kata orang dengan kata pustakawan dan sedikit memodifikasikannya, maka akan diperloleh kalimat berikut:

Filsafat kepustakawanan adalah pernyataan/penjelmaan dari sesuatu yang hidup di dalam hati setiap pustakawan. Maka walaupun tidak setiap pustakawan dapat menjadi ahli filsafat, namun yang dibicarakan atau dipersoalkan dalam filsafat kepustakawanan itu memang berarti bagi semua pustakawan.
  
Perlu juga kiranya disampaikan pandangan Diryarkara tentang pentingnya pelajaran filsafat. Dikatakannya bahwa filsafat tidak melulu yang teoritis saja, namun akhirnya juga bermuara pada kehendak dan perbuatan yang praktis. Ditekankannya mengapa orang ingin mengerti, karena ingin mengerti untuk berbuat. Sehingga pengertian dan pengetahuan itu dipakai orang dalam menjalani hidupnya. Selanjutnya disebutkan beda antara orang yang berfilsafat dan yang tidak, itu terletak dalam sikap mereka terhadap hidup manusia. Dengan demikian pustakawan sudah seharusnyalah juga mencari jawab atas segala pertanyaan hidupnya terutama dalam menjalani profesinya. Dengan kata lain pustakawan memerlukan filsafat kepustakawanan agar mempunyai sikap (ideal) terhadap hidup kepustakawanannya. 

Selanjutnya menurut Driyarkara, pelajaran filsafat adalah cara mendidik, membangun diri kita sendiri karena: 1) dengan berfilsafat kita lebih menjadi manusia 2) kebiasaan melihat dan menganalisis persoalan membuat kita lebih cerdas dan tangkas untuk melihat dan memecahkan persoalan dalam hidup keseharin kita 3) pelajaran filsafat mengajar dan melatih kita memandang dengan lebih luas, dan 4) dengan pelajaran filsafat kita diharapkan menjadi orang yang dapat berpikir sendiri. Dikatakannya pula jika dipandang menurut isinya:
 
  1. Filsafat memberi dasar pengetahuan kita, memberikan pandangan yang sintetis pula hingga seluruh  pengetahuan kita merupakan kesatuan
  2. Hidup kita dipimpin oleh pengetahuan kita. Sebab itu mengetahui kebenaran berarti mengetahui dasar hidup sendiri. Dalam etika hal ini tampak nyata.
  3. Khususnya bagi seorang pendidik, filsafat mempunyai kepentingan istimewa karena filsafat memberi dasar dari ilmu-ilmu lainnya mengenai manusia, misalnya ilmu mendidik, sosiologi, ilmu jiwa, dan lain sebagainya.
Pustakawan adalah mahkluk hidup yang disebut sebagai manusia. Driyarkara menyebut manusia yang tidak hanya ”apa” melainkan juga ”siapa” itu sebagai ”pribadi”. Dengan demikian ”pustakawan”  adalah pribadi. Menarik melihat ”pustakawan” dan ”pribadi” ini dari sudut tata bahasa. Jika dua kata itu diturunkan dengan tambahan ke-an, maka ”pustakawan” akan menjadi ”kepustakawanan”, sedang ”pribadi” akan menjadi ”kepribadian”. Padahal ”pustakawan” adalah juga ”pribadi”, sehingga dapat diharapkan ada kesetaraan konsep ”pustakawan dan kepustakawanan” dengan konsep ”pribadi dan kepribadian”. Logikanya pemikiran Driyarkara tentang ”pribadi dan kepribadian” berlaku juga untuk konsep ”pustakawan dan kepustakawanan
Pokok pikiran Driyarkara tentang pribadi dan kepribadian adalah:
  • Pribadi manusia supaya betul-betul menjadi Pribadi harus menjadi Kepribadian.
  • Pribadi yang tidak menjadi kepribadian itu merupakan pribadi yang terjerumus, Pribadi yang tidak setia terhadap Tuhan, terhadap masyarakat dan dirinya sendiri, Pribadi yang kehilangan keluhuran dan kehormatannya.
  • Kepribadian adalah perkembangan dari Pribadi. Perkembangan yang betul-betul menjalankan kedaulatan dan kekuasaannya atas dirinya sendiri dan tidak dijajah oleh kenafsuan-kenafsuan, dan dunia material.
  • Jika ini tercapai maka Pribadi betul-betul ”bersemayam” dalam dirinya sendiri.  
Analogi dengan sedikit modifikasi berikut tentunya dapat dipakai sebagai permenungan dengan mengganti kata pribadi dengan pustakawan dan kata kepribadian dengan kata kepustakawanan.
  • Pustakawan supaya betul-betul menjadi Pustakawan  harus menjadi dan memiliki Kepustakawanan.
  • Pustakawan yang tidak menjadi kepustakawanan itu merupakan pustakawan yang terjerumus, Pustakawan yang tidak setia terhadap Tuhan, terhadap masyarakat dan dirinya sendiri, Pustakawan yang kehilangan keluhuran dan kehormatannya.
  • Kepustakawanan adalah perkembangan dari Pustakawan.. Perkembangan yang betul-betul menjalankan kedaulatan dan kekuasaannya atas dirinya sendiri dan tidak dijajah oleh kenafsuan-kenafsuan, dan dunia material.
  • Jika ini tercapai maka Pustakawani betul-betul ”bersemayam” dalam dirinya sendiri.  
Sejak dasawarsa 1990an Blasius Sudarsono mempunyai paham bahwa kepustakawanan menganut
Ø  Empat Pilar Penyangga
1.      Kepustakwanan adalah Panggilan Hidup
2.      Kepustakwanan adalah semangat hidup
3.      Kepustakwanan adalah karya pelayanan
4.      Kepustakwanan adalah profesional
Ø  Lima Daya Utama
1.      Berfikir kritis, analitis, dan kritis
2.      Berkemampuan membaca
3.      Berkemampuan menulis
4.      Berkemampuan wirausaha
5.      Menjunjung tinggi etika
  

   Blasius juga mempunyai suatu organisasi yang bernama KAPPA SIGMA KAPPA INDONESIA (2012)
  • Profesi pustakawan akan diakui sejajar dengan profesi lain jika dan hanya jika Ilmu Perpustakaan dan Informasi (IP&I) juga diakui sejajar dengan ilmu lain.
  •       Oleh karena itu studi dan pengembangan IP&I serta penerapannya adalah keniscayaan  
  •      Dibentuk oleh dan bagi pribadi yang sadar akan tangung jawab untuk ikut melakukan upaya pembelajaran berkesinambungan guna mengembangkan kepustakawanan Indonesia.
  •     Dimaksudkan sebagai komunitas pemelihara semangat belajar berkesinambungan dan penumbuh rasa bangga setiap anggota atas IP & I, sehingga dapat menghasilkan pemikiran mendalam maupun konsep pengembangan kepustakawanan Indonesia.
  •        Bersaudara untuk menumbuhkembangkan kepustakawann Indonesia. 

    Sebagai uji coba atas eksistensi perpustakaan pertanyaan berikut perlu dijawab: ”Apakah perpustakaan juga dicari jika tidak ada (tutup)? Atau: ”Apakah pustakawan juga dicari saat tidak hadir?” Jelas tidak akan dicari apabila perpustakaan atau pustakawan tidak memberi rasa pada masyarakat lingkungan-nya. Sebagai garam jika sudah hilang rasa asinnya tentu tidak berguna dan akan dibuang.
    Garam yang kehilangan rasa asin mengibaratkan juga pustakawan yang kehilangan kepustakawanannya. Kepustakawanan (rasa asin) awal itulah yang harus dihasilkan semua sekolah pustakawan kita. Pertanyaan kepada sekolah pustakawan: ”Apakah mau mengahasilkan calon pustakawan yang memiliki roh kepustakawanan?”
     Tulisan inipun bukan memberi kesimpulan, karena memang upaya untuk mengajak belajar berfilsafat. Pemikiran filsafat tidak ada akhirnya selama kehidupan manusia (pustakawan) masih ada.

    Daftar Pustaka
    Driyakarya.2006. Karya lengkap Driyarkara : Esai-esai filsafat pemikir yang terlibat penuh
    dalam perjuangan bangsanya. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
    Hasan Alwi, Soenjono Darmowidjojo, Hans Lapoliwa, dan Anton M Moeliono. 2003. Tata
    bahasa baku Bahasa Indonesia Edisi ketiga, cetakan keenam. Jakarta : Pusat Bahasa dan Balai Pustaka.
    Sudarsono-Blasius, 2006. Antologi Kepustakawanan Indonesia. Jakarta: IPI.
    WEB

    Semoga bermanfaat 



     

5 komentar:

  1. Salah satu Maestro Kepustakawanan di Indonesia. banyak tulisan beliau yang menjadi inspirasi pengembangan perpustakaan kita

    BalasHapus
  2. Masih banyak pemikiran-pemikirannya (nyeleneh tapi baik) yang belum sempat beliau tulis, ayo pustakawan ikuti jejak beliau ...

    BalasHapus
  3. Sepertinya saya termasuk "pustakawan panggilan hidup" deh ✌

    BalasHapus
  4. jooosss pak blaasiuss.. sukses terus yaaa..:)

    BalasHapus